Caption foto Presiden Mahasiswa Universitas Bhinneka PGRI (UBhi) Tulungagung, Salsabila Tahtahirani
TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com – Di tengah tekanan ekonomi masyarakat dan menguatnya perdebatan mengenai arah demokrasi nasional, mahasiswa menegaskan komitmennya untuk tetap menjadi penjaga demokrasi serta pengawal kepentingan rakyat.
Gerakan yang dibangun mahasiswa, menurut Presiden Mahasiswa Universitas Bhinneka PGRI (UBhi) Tulungagung Salsabila Tahtahirani, harus berjalan di jalur intelektual dan konstitusional dengan mengedepankan gagasan, kritik yang konstruktif, dan keberpihakan kepada masyarakat.
Presiden Mahasiswa Universitas Bhinneka PGRI (UBhi) Tulungagung, Salsabila Tahtahirani, menyebut persoalan ekonomi seperti naiknya harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, serta tekanan biaya pendidikan menjadi realitas yang dirasakan langsung masyarakat, termasuk keluarga mahasiswa.
“Kami melihat langsung bagaimana orang tua mahasiswa harus bekerja lebih keras untuk membiayai pendidikan anaknya. Ini bukan sekadar isu politik, tetapi persoalan nyata masyarakat,” ujar Salsabila dalam wawancara eksklusif bersama HARIAN NEWS, Rabu (17/6/2026).
Menurutnya, mahasiswa juga menaruh perhatian terhadap sejumlah kebijakan yang dinilai memengaruhi kualitas demokrasi, termasuk ruang kebebasan berpendapat di tengah masyarakat.
Salsabila menegaskan gerakan mahasiswa di Tulungagung tidak sekadar mengikuti arus aksi nasional, melainkan berangkat dari persoalan daerah yang dirasakan langsung masyarakat, seperti infrastruktur, pendidikan, bantuan sosial, hingga kesejahteraan tenaga pendidik.
“Kami tidak sedang meniru Jakarta. Kami berbicara tentang kondisi masyarakat di daerah sendiri yang merasakan dampak berbagai kebijakan,” katanya.
Sebagai langkah lanjutan, komunikasi antar-BEM dan organisasi mahasiswa lintas kampus mulai diperkuat guna membangun gerakan yang lebih terarah dan substansial.
Mahasiswa juga menegaskan bahwa perjuangan yang dibangun harus tetap berada pada koridor akademik dan konstitusional, dengan mengedepankan argumentasi serta kepentingan masyarakat luas.
“Gerakan mahasiswa harus tetap berada di jalur intelektual dan konstitusional.
Kepercayaan publik dibangun melalui kedisiplinan, argumentasi yang kuat, dan keberpihakan kepada rakyat,” tegasnya.
Selain aksi lapangan, mahasiswa menilai media digital juga menjadi ruang strategis untuk memperkuat pengawasan publik terhadap kebijakan pemerintah.
Bagi mahasiswa Tulungagung, perjuangan bukan sekadar turun ke jalan, tetapi memastikan suara masyarakat tetap terdengar dan menjadi bagian dari proses perubahan yang lebih baik.
Jurnalis: Pandhu













