

TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com — Di bawah hangatnya mentari Syawal 1447 Hijriah, suasana penuh kekeluargaan terasa kental di Desa Ngantru, Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung, Ahad (5/4/2026).
Tawa, sapa hangat, dan jabat tangan yang erat menjadi penanda bahwa ikatan lama kembali dirajut dalam satu momentum sakral: Halal Bihalal Keluarga Besar Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI-Polri (FKPPI) Cabang 1307 Tulungagung.
Bertempat di kediaman Seno, Ketua Rayon Ngantru, kegiatan ini bukan sekadar tradisi tahunan. Lebih dari itu, ia menjelma menjadi ruang refleksi, konsolidasi, sekaligus titik tolak kebangkitan organisasi yang telah lama menjadi bagian dari denyut nadi kebangsaan.

Di tengah kebersamaan itu, Ketua KB FKPPI Cabang 1307 Tulungagung, Moch. Moezamil, S.Sos., tampil memimpin jalannya acara.
Dengan gaya tutur yang tenang namun sarat makna, ia mengajak seluruh anggota untuk kembali memaknai esensi halal bihalal—bukan hanya saling memaafkan, tetapi juga memperkuat kembali simpul-simpul persaudaraan yang mungkin sempat mengendur.
“Ini bukan sekadar seremoni. Ini momentum kembali ke fitrah, menyatukan hati, dan meneguhkan komitmen bersama,” ujarnya.
Seragam putih yang dikenakan para anggota hari itu seakan menjadi simbol yang hidup. Putih, kata Moezamil, bukan hanya warna—melainkan representasi dari hati yang bersih, niat yang lurus, serta semangat baru untuk melangkah bersama dalam satu barisan.
Namun, di balik suasana hangat tersebut, terselip kejujuran yang disampaikan secara terbuka. Moezamil mengakui, FKPPI saat ini tengah menghadapi tantangan serius.
Jumlah anggota yang besar belum sepenuhnya berbanding lurus dengan tingkat keaktifan di lapangan.
Di sinilah, menurutnya, FKPPI harus berbenah.
“Kita tidak boleh hanya bangga pada angka. Yang dibutuhkan adalah kehadiran nyata, kontribusi nyata,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa kebangkitan FKPPI tidak bisa berjalan sendiri. Sinergi dengan para pembina—baik dari unsur TNI maupun Polri—menjadi fondasi penting dalam mengarahkan langkah organisasi agar tetap berada di rel perjuangan.

Mulai dari tingkat kabupaten hingga desa, peran Dandim, Kapolres, Babinsa, hingga Bhabinkamtibmas dinilai krusial dalam menyatukan visi di tengah beragamnya latar belakang anggota.
“Keberagaman adalah kekuatan, tapi tanpa arah yang sama, ia bisa menjadi tantangan. Di sinilah pentingnya pembinaan,” imbuhnya.
Sorotan lain yang tak kalah penting adalah peran generasi muda. Di hadapan para anggota lintas usia, Moezamil mengingatkan bahwa FKPPI bukan sekadar organisasi biasa, melainkan warisan nilai dari para orang tua yang telah mengabdi melalui TNI dan Polri.
Ada amanah besar yang harus dijaga.
“Ini estafet perjuangan. Generasi muda harus hadir, menjaga nilai kebangsaan, dan menghidupkan organisasi sesuai AD/ART,” pesannya penuh harap.
Lebih jauh, FKPPI Tulungagung menegaskan komitmennya untuk terus menjadi mitra strategis pemerintah, terutama dalam mendukung program pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
Tak hanya itu, organisasi ini juga siap mengambil peran sebagai garda terdepan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Semangat itu bukan sekadar jargon. Ia hidup dalam keyakinan yang terus dijaga—bahwa “Semangat 45” masih menyala di dada setiap anggota FKPPI.
Sebagai langkah konkret, FKPPI telah menyiapkan agenda peringatan Hari Kartini sebagai ruang ekspresi sekaligus penguat kebersamaan. Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi magnet partisipasi, terutama bagi generasi muda.
Di penghujung acara, satu pesan kembali ditekankan: pentingnya tertib administrasi sebagai fondasi organisasi yang sehat dan berkelanjutan. Seluruh anggota yang belum terdata diimbau untuk segera mendaftarkan diri ke sekretariat.
“Sejarah adalah pijakan. Tapi masa depan ditentukan oleh apa yang kita lakukan hari ini. Soliditas, keikhlasan, dan aksi nyata—itulah kuncinya,” pungkas Moezamil.
Hari itu, Halal Bihalal di Ngantru bukan sekadar pertemuan biasa. Ia menjadi penegasan arah baru—bahwa FKPPI Tulungagung siap bangkit, merapatkan barisan, dan kembali meneguhkan diri sebagai organisasi yang solid, berdaya, dan setia menjaga NKRI.
Jurnalis: Pandhu
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !