Gerindra Bersihkan Ngrowo, Tata Kelola Sampah Diuji

TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com — Aksi bersih-bersih Sungai Ngrowo di belakang Pasar Wage, Kelurahan Botoran, Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, menjadi momentum untuk menyoroti persoalan pengelolaan sampah yang membutuhkan penanganan berkelanjutan. Tumpukan sampah plastik dan rumput liar di kawasan tersebut kembali menjadi perhatian ketika DPC Partai Gerindra Kabupaten Tulungagung menggelar aksi Resik-Resik Sungai Ngrowo, Sabtu (17/10/2026).
Kegiatan yang dimulai pukul 07.00 WIB itu mengusung gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah). Kader Gerindra, anggota Fraksi Gerindra DPRD Tulungagung, organisasi sayap partai, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tulungagung, serta masyarakat setempat terlibat dalam kegiatan tersebut.
Namun, dari perspektif pengelolaan lingkungan, membersihkan sungai hanyalah salah satu bagian dari upaya penanganan sampah. Tantangan yang lebih mendasar adalah mencegah sampah kembali masuk ke badan sungai melalui perbaikan pengelolaan dari sumbernya, penyediaan sarana yang memadai, edukasi masyarakat, serta pengawasan secara konsisten.
Tanpa langkah tersebut, kegiatan bersih-bersih berisiko menjadi agenda berulang yang hanya mengatasi sampah yang terlihat, tanpa menyelesaikan faktor penyebabnya.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Kabupaten Tulungagung, Ginanjar Eko Santoso, S.STP., M.M., yang memimpin kegiatan tersebut, menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan dalam menjaga kelestarian Sungai Ngrowo.
Ia menyoroti kesadaran sebagian masyarakat dalam menangani sampah sebagai salah satu tantangan. Warga, khususnya yang tinggal di bantaran sungai, diimbau tidak membuang sampah ke aliran Sungai Ngrowo.
Ginanjar juga mendorong perubahan pola pengelolaan sampah. Masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan sistem kumpul, angkut, dan buang, tetapi perlu mulai memilah serta mengolah sampah sejak dari sumbernya.
Pemilahan dari rumah tangga dan lingkungan permukiman menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi sampah yang berakhir di sungai. Akan tetapi, perubahan perilaku perlu didukung sistem pelayanan yang berjalan baik, mulai dari tempat penampungan, pengangkutan terjadwal, hingga fasilitas pengolahan yang dapat diakses masyarakat.
Karena itu, tanggung jawab menjaga kebersihan sungai tidak dapat dibebankan hanya kepada warga atau petugas kebersihan. Pemerintah daerah perlu memastikan sistem pengelolaan sampah berfungsi, sementara masyarakat berperan mencegah pembuangan sampah sembarangan.
Evaluasi Tidak Cukup Berhenti pada Kegiatan
Aksi Resik-Resik Sungai Ngrowo juga memunculkan pertanyaan mengenai keberlanjutan penanganan sampah di kawasan tersebut. Seberapa rutin pembersihan dilakukan? Bagaimana pengawasan terhadap titik rawan pembuangan sampah? Apakah tersedia data untuk mengukur perubahan kondisi sungai setelah kegiatan?
Dalam bahan keterangan kegiatan yang diterima, belum tercantum data mengenai volume sampah yang diangkut, frekuensi pembersihan, maupun target pengurangan sampah di kawasan tersebut.
Data itu penting sebagai dasar evaluasi. Keberhasilan program lingkungan semestinya tidak hanya diukur dari jumlah peserta atau terlaksananya kegiatan, tetapi juga dari perubahan kondisi lapangan dalam jangka menengah dan panjang.
Indikator yang dapat digunakan antara lain volume sampah yang berhasil dikumpulkan, berkurangnya titik pembuangan liar, ketersediaan layanan pengangkutan, serta kondisi kebersihan sungai dalam pemantauan berkala.
Pengukuran tersebut juga dapat membantu pemerintah menentukan lokasi prioritas dan jenis intervensi yang dibutuhkan. Apabila sampah kembali menumpuk di titik yang sama, evaluasi perlu menelusuri penyebabnya, termasuk perilaku pembuangan, akses layanan persampahan, dan efektivitas pengawasan.
Sekretaris DPC Partai Gerindra Kabupaten Tulungagung, Sumarsono Efendi, S.T., yang mewakili Ketua DPC Gerindra Tulungagung Ahmad Baharudin, S.M., M.M., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kontribusi partai dalam mendukung pelestarian lingkungan.

Kegiatan itu melibatkan kader Gerindra se-Kabupaten Tulungagung, anggota Fraksi Gerindra DPRD Tulungagung, serta organisasi sayap partai, termasuk Perempuan Indonesia Raya (PIRA) dan Tunas Indonesia Raya (TIDAR).
Sumarsono berharap gerakan peduli lingkungan tidak berhenti pada satu kegiatan. Aksi serupa direncanakan menyasar kawasan lain, termasuk pantai dan fasilitas umum.
Komitmen tersebut dapat diperkuat melalui agenda tindak lanjut yang jelas, termasuk penentuan lokasi prioritas, jadwal kegiatan, pembagian tanggung jawab, serta evaluasi hasil. Dengan demikian, gerakan kebersihan tidak hanya menjadi kegiatan sosial, tetapi juga mendorong tumbuhnya budaya peduli lingkungan.
Sebagai partai yang memiliki perwakilan di DPRD, Gerindra juga mempunyai ruang untuk mendorong pengawasan dan evaluasi kebijakan lingkungan daerah. Peran tersebut dapat diwujudkan melalui pengawalan program persampahan, evaluasi pelayanan publik, dan dorongan terhadap transparansi target maupun capaian penanganan sampah.
Potensi Wisata Harus Didukung Pembenahan Lingkungan
Di sisi lain, Ketua Perempuan Indonesia Raya (PIRA) Tulungagung, Eka Yeni Retnosari, melihat Sungai Ngrowo memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi ikon kebanggaan daerah.
Menurutnya, kawasan tersebut tidak seharusnya hanya menjadi tempat berkumpul warga. Dengan penataan yang tepat, Sungai Ngrowo berpotensi dikembangkan sebagai ruang publik, destinasi wisata, dan lokasi berbagai kegiatan masyarakat yang dapat menarik pengunjung dari luar daerah.

Eka Yeni juga mendorong pemberdayaan perempuan melalui peluang usaha kuliner di sekitar bantaran sungai. Gagasan itu diharapkan membuka kesempatan ekonomi bagi warga sekaligus mendukung pengembangan kawasan.
Meski demikian, pengembangan wisata sungai perlu didahului pembenahan kondisi lingkungan. Kebersihan kawasan, sanitasi, pengelolaan limbah usaha, keamanan pengunjung, dan penataan ruang harus menjadi bagian dari perencanaan sejak awal.
Aktivitas ekonomi di sekitar sungai berpotensi memberikan manfaat bagi masyarakat. Namun, tanpa sistem pengelolaan limbah dan sampah yang memadai, pertumbuhan usaha justru dapat menambah tekanan terhadap lingkungan.
Karena itu, gagasan pengembangan Sungai Ngrowo perlu ditindaklanjuti melalui koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Tulungagung dan perangkat daerah terkait. Kajian lebih lanjut diperlukan untuk memastikan kesesuaian rencana dengan tata ruang, kondisi lingkungan, kebutuhan masyarakat, serta kemampuan infrastruktur pendukung.
Pengembangan kawasan juga perlu memperhatikan fungsi sungai dan sempadannya. Penataan ruang publik maupun kegiatan ekonomi tidak boleh mengabaikan aspek keselamatan, kelestarian lingkungan, dan ketentuan yang berlaku.
Dengan perencanaan yang matang, potensi ekonomi kawasan dapat dikembangkan sejalan dengan upaya menjaga kualitas lingkungan, bukan justru menambah persoalan baru.
Butuh Komitmen dan Pengawasan Berkelanjutan
Aksi Resik-Resik Sungai Ngrowo menunjukkan adanya kepedulian berbagai pihak terhadap kebersihan lingkungan. Namun, persoalan sampah membutuhkan penanganan yang lebih sistematis daripada sekadar membersihkan lokasi yang terlihat kotor.
DLH perlu memperkuat edukasi, memastikan dukungan sarana pengelolaan sampah, serta melakukan pemantauan secara berkala. Masyarakat perlu membangun kebiasaan memilah dan mengelola sampah, sekaligus menghentikan praktik pembuangan ke sungai.
Sementara itu, para pemangku kepentingan, termasuk partai politik dan anggota legislatif, dapat mengawal kebijakan serta mendorong keterbukaan informasi mengenai program penanganan sampah.
Publik membutuhkan kejelasan mengenai langkah yang akan dilakukan setelah kegiatan, pihak yang bertanggung jawab, dan ukuran keberhasilan yang digunakan. Informasi tersebut penting agar komitmen menjaga lingkungan dapat dievaluasi secara objektif.
Pada akhirnya, keberhasilan menjaga Sungai Ngrowo tidak cukup diukur dari bersihnya kawasan pada hari kerja bakti. Ukuran yang lebih penting adalah apakah sampah tidak kembali menumpuk, layanan persampahan berjalan, dan kondisi lingkungan dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Gerakan Indonesia ASRI akan memiliki makna lebih besar apabila semangat gotong royong diikuti perbaikan tata kelola sampah dari hulu ke hilir. Sungai Ngrowo tidak hanya membutuhkan aksi pembersihan, tetapi juga konsistensi, tanggung jawab yang terukur, dan pengawasan berkelanjutan.
Jurnalis: Pandhu













