MalangPemerintahan

Lima Tahun Kekeringan, Air Sawah Singosari Mulai Mengalir

×

Lima Tahun Kekeringan, Air Sawah Singosari Mulai Mengalir

Sebarkan artikel ini
Pembongkaran penutup beton saluran di selatan Pasar Singosari membuka akses air yang selama lima tahun terakhir terkendala sedimentasi dan sampah.

MALANG, SIARANESIA.COM – Harapan ratusan petani di Kelurahan Pagentan serta Desa Watugede dan Tamanharjo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, mulai tumbuh setelah aliran irigasi Sungai Klampok kembali masuk ke sawah. Pembongkaran penutup beton saluran di selatan Pasar Singosari membuka akses air yang selama lima tahun terakhir terkendala sedimentasi dan sampah.

“Sudah ada air, meski harus dibagi. Itu setelah pembongkaran cor beton yang menutup saluran irigasi di selatan Pasar Singosari dua minggu lalu,” kata Turmuji, petani asal Desa Watugede, Selasa (13/10/2026).

Lahan pertanian yang membutuhkan pasokan air mencapai 180 hektare. Rinciannya, 61 hektare di Pagentan, 69 hektare di Watugede, dan 50 hektare di Tamanharjo.

Meski air mulai mengalir, pemulihan irigasi belum tuntas. Sedimentasi yang mengeras dan tumpukan sampah masih menghambat distribusi air, terutama di bawah Jembatan Singosari pada jalur nasional Malang–Surabaya.

Sebelumnya, petani berupaya membersihkan saluran secara manual menggunakan bambu. Namun, endapan yang menumpuk selama bertahun-tahun membuat upaya tersebut tidak lagi efektif.

Pembongkaran penutup beton menggunakan ekskavator dilakukan pada Selasa (29/9/2026). Bangunan yang berdiri sejak 2012 itu menutupi gorong-gorong sepanjang 81 meter di bawah deretan 24 kios. Hingga kini, sekitar 31 meter bagian penutup telah dibuka.

Setelah akses terbuka, belasan petani bergotong royong membersihkan saluran dan berhasil mengangkut sekitar 20 dump truck material sedimentasi serta sampah. Namun, masih diperkirakan ada sekitar 30 dump truck material yang perlu dikeruk menggunakan alat berat.

.Ketua Fraksi PKB DPRD Kabupaten Malang, Abdulloh Satar atau Gus Satar bersama Plt Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) Kabupaten Malang, Yudi Hindharto dilokasi pembongkan penutup saluran

Ketua Fraksi PKB DPRD Kabupaten Malang, Abdulloh Satar atau Gus Satar, mengatakan persiapan pengerahan ekskavator dilakukan untuk mempercepat pembersihan sedimentasi, terutama di bawah jembatan.

“Hari ini, kami bersama petani menyiapkan tempat buat ekskavator, yang akan mengeruk sedimentasi di bawah jembatan,” ujar anggota Komisi III DPRD Kabupaten Malang tersebut.

Plt Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) Kabupaten Malang, Yudi Hindharto, menyatakan pihaknya tengah menyiapkan pengerahan alat berat untuk menormalisasi saluran.

“Normalisasi irigasi itu jadi atensi kami biar petani senang dan tak sampai terancam gagal panen,” tegasnya.

Bagi petani, kelancaran irigasi sangat menentukan produktivitas dan pendapatan. Turmuji memperkirakan lahan miliknya seluas 2.500 meter persegi mampu menghasilkan sekitar 1,5 ton padi varietas Inpari atau IR 32 saat pasokan air mencukupi.

Ia mengapresiasi Abdulloh Satar yang telah memfasilitasi aspirasi petani terkait persoalan irigasi tersebut.

“Jika sedimentasinya bisa dibersihkan total, mungkin sudah tak ada kekeringan,” ujarnya.

Kini, petani Pagentan, Watugede, dan Tamanharjo menanti normalisasi hingga tuntas. Targetnya bukan sekadar membuat air kembali mengalir, melainkan memastikan pasokan menjangkau seluruh lahan pertanian agar ancaman kekeringan dan gagal panen tidak terus berulang.

Jurnalis: TS