BlitarPariwisataSeni Budaya

Camat Sutojayan Dorong Siraman Gong Kyai Pradah Jadi Agenda Wisata Tahunan, UMKM Ikut Bergeliat

×

Camat Sutojayan Dorong Siraman Gong Kyai Pradah Jadi Agenda Wisata Tahunan, UMKM Ikut Bergeliat

Sebarkan artikel ini
Camat Sutojayan Dorong Siraman Gong Kyai Pradah Jadi Agenda Wisata Tahunan,
Arinal Huda Camat Sutojayan saat  Siraman Gong Kyai Pradah.

BLITAR, HARIAN-NEWS.COM — Gong Kyai Pradah bukan sekadar pusaka yang setiap tahun dijamas. Di tangan Kecamatan Sutojayan, tradisi itu mulai dikemas menjadi magnet wisata sekaligus ruang tumbuh bagi ekonomi masyarakat.

Prosesi Siraman Gong Kyai Pradah 2026 hadir dengan wajah yang lebih semarak. Pemerintah Kecamatan Sutojayan menambahkan rangkaian seni dan budaya melalui Pradah Agung Festival, mengubah momentum siraman pusaka menjadi sebuah perhelatan yang berlangsung lebih panjang.

Gagasan tersebut didorong Camat Sutojayan, Arinal Huda. Ia melihat tradisi budaya tidak cukup hanya dipertahankan dalam bentuk prosesi tahunan, tetapi perlu dikemas agar mampu menarik masyarakat datang, menikmati pertunjukan, sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.

“Kalau tahun-tahun sebelumnya hanya jamasan pusaka agung seperti Gong Kyai Pradah, tahun ini ada Pradah Agung Festival. Sebelum acara inti, satu minggu sebelumnya ada beberapa event,” ujar Arinal Huda, Kamis (27/8/2026).

Tradisi Diperpanjang, Atraksi Diperbanyak

Rangkaian kegiatan tidak hanya menghadirkan prosesi budaya. Sejumlah pertunjukan seni digelar secara beruntun, mulai dari sanggar lokal, kesenian dari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, hingga parade jaranan yang melibatkan kelompok seni dari berbagai wilayah di Kecamatan Sutojayan.

Parade jaranan pada 23 Agustus menjadi salah satu agenda yang menyedot perhatian. Dengan mengambil rute dari Lapangan Berbo menuju Alun-Alun Sutojayan, arak-arakan kesenian tersebut menghadirkan suasana berbeda sekaligus membawa seni tradisi lebih dekat dengan masyarakat.

Pertunjukan juga berlangsung di Pendopo Sutojayan. Pada 20 Agustus, panggung budaya diisi Sanggar Kinar Patria Loka. Sehari berikutnya, giliran seniman dari ISI Solo tampil, kemudian dilanjutkan pertunjukan kesenian lokal pada 22 Agustus.

Rangkaian tersebut menjadi cara baru untuk membangun suasana sebelum masyarakat memasuki puncak tradisi Siraman Gong Kyai Pradah.

“Ini yang membedakan dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini rangkaiannya lebih panjang dan tidak hanya terpusat pada prosesi siraman,” jelas Arinal.

Bahkan, denyut budaya tidak berhenti setelah prosesi utama. Tradisi sepasaran dan selapanan turut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan. Pada malam hari juga dijadwalkan pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Joko dari wilayah Lodoyo.

Dari Ritual Menuju Magnet Wisata

Bagi Arinal, memperpanjang rangkaian kegiatan memiliki tujuan lebih besar. Siraman Gong Kyai Pradah diharapkan tidak berhenti sebagai agenda ritual budaya, tetapi berkembang menjadi event wisata tahunan yang mampu mendatangkan lebih banyak pengunjung ke Sutojayan.

“Saya harapkan ini akan menjadi agenda tahunan,” tegasnya.

Konsep tersebut sekaligus menjadi strategi untuk memperkuat daya tarik wisata berbasis budaya. Ketika kegiatan tidak hanya berlangsung dalam satu hari, peluang masyarakat untuk menikmati dampak ekonomi dari kedatangan pengunjung pun semakin terbuka.

Ketika Keramaian Menjadi Peluang UMKM

Di balik riuhnya parade, pertunjukan seni dan tradisi, ada pergerakan ekonomi yang ikut tumbuh.

Arinal melihat event budaya sebagai ruang ekonomi yang konkret bagi masyarakat. Semakin panjang rangkaian kegiatan, semakin banyak pula momentum yang dapat dimanfaatkan pelaku UMKM untuk menawarkan produk mereka.

“Saya berharap ini terus berkembang. Tahun ini memang saya mulai dengan beberapa event tambahan yang saya harapkan tidak hanya meningkatkan kunjungan wisatawan ke sini, tetapi juga menggerakkan potensi ekonomi yang ada di wilayah Sutojayan,” ungkapnya.

Menurutnya, kegiatan tunggal dalam satu hari membuat kesempatan masyarakat untuk berjualan menjadi terbatas. Sebaliknya, rangkaian acara yang berlangsung beberapa hari menciptakan lebih banyak titik keramaian.

“Dengan ada event tambahan, orang akhirnya berpikir, oh saya bisa berjualan di kegiatan ini. Berjualan di kegiatan yang lain. Beda kalau hanya kegiatan satu tunggal seperti hari ini saja,” katanya.

Respons masyarakat, lanjut Arinal, juga cukup positif. Masukan yang diterimanya menunjukkan geliat pelaku UMKM tahun ini terasa lebih kuat dibandingkan pelaksanaan sebelumnya.

“Sebagian besar masyarakat menyampaikan bahwa dengan event-event tambahan seperti itu, banyak UMKM yang lebih menggeliat dibanding tahun-tahun sebelumnya,” pungkasnya.

Menjaga Tradisi, Membuka Masa Depan

Apa yang dilakukan Kecamatan Sutojayan memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pengembangan pariwisata dan ekonomi masyarakat.

Gong Kyai Pradah tetap menjadi pusat tradisi. Namun, ruang di sekitarnya mulai diperluas melalui pertunjukan seni, parade budaya, wayang kulit dan berbagai kegiatan masyarakat.

Dari sinilah gagasan Pradah Agung Festival menemukan relevansinya: bukan menggantikan tradisi, melainkan memberi panggung yang lebih luas agar tradisi tetap hidup, semakin dikenal wisatawan, dan pada saat yang sama memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Jika konsisten dikembangkan, Siraman Gong Kyai Pradah berpotensi tidak lagi dipandang sebagai peristiwa budaya satu hari. Ia dapat tumbuh menjadi kalender wisata tahunan Sutojayan, dengan budaya sebagai identitas dan UMKM sebagai salah satu penerima manfaatnya.

Jurnalis: Etok
Harian-News.com