Pendidikan

PPKn Dituntut Adaptif di Era Digital, CIVIC-GO Jadi Inovasi Pembelajaran

×

PPKn Dituntut Adaptif di Era Digital, CIVIC-GO Jadi Inovasi Pembelajaran

Sebarkan artikel ini

Workshop Pendidikan Kewarganegaraan Bermuatan Kearifan Lokal yang diselenggarakan Tim Peneliti Hibah Penelitian BIMA Tahun 2025 di Lojikka Hotel Tulungagung, Kamis (21/8/2025).

TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com — Transformasi digital telah mengubah cara generasi muda belajar, berinteraksi, dan memperoleh informasi. Di tengah perubahan tersebut, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) menghadapi tantangan untuk tetap relevan tanpa kehilangan peran utamanya sebagai sarana pembentukan karakter, moral, dan identitas kebangsaan.

Persoalan itu menjadi salah satu fokus pembahasan dalam Workshop Pendidikan Kewarganegaraan Bermuatan Kearifan Lokal yang diselenggarakan Tim Peneliti Hibah Penelitian BIMA Tahun 2025 di Lojikka Hotel Tulungagung, Kamis (21/8/2025).

Kegiatan yang diketuai Dwi Agustina Rahayu, M.Pd. tersebut menghadirkan Andreas Andrie Djatmiko, S.H., M.Hum. sebagai narasumber dan diikuti guru-guru PPKn SMA/SMK yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), akademisi, serta praktisi pendidikan.

Workshop ini tidak hanya menjadi forum akademik, tetapi juga ruang refleksi terhadap berbagai tantangan pembelajaran PPKn yang masih dihadapi di sekolah. Mulai dari rendahnya keterlibatan peserta didik, dominasi metode ceramah, hingga belum optimalnya pemanfaatan teknologi sebagai media pembelajaran yang mampu membangun pengalaman belajar yang bermakna.

Ketua Tim Peneliti, Dwi Agustina Rahayu, menegaskan bahwa perubahan karakter dan pola belajar generasi digital menuntut perubahan pendekatan dalam proses pembelajaran. Menurutnya, peserta didik yang tumbuh bersama internet dan gawai membutuhkan metode yang lebih interaktif, kontekstual, dan mampu menghubungkan materi dengan realitas kehidupan sehari-hari.
“Teknologi harus dimanfaatkan sebagai instrumen untuk memperkuat pendidikan karakter, bukan sekadar memindahkan materi pelajaran ke dalam layar digital. Nilai-nilai Pancasila, demokrasi, toleransi, gotong royong, hingga penghargaan terhadap budaya lokal harus tetap menjadi pondasi utama pembelajaran,” ujarnya.

Ia menilai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini semakin kompleks. Arus informasi yang tidak terbendung memunculkan berbagai persoalan seperti disinformasi, polarisasi di ruang digital, rendahnya literasi kewarganegaraan, hingga menurunnya kepedulian terhadap budaya dan identitas lokal.

Karena itu, pembelajaran PPKn tidak cukup hanya menyampaikan konsep kenegaraan dan norma konstitusi. Lebih dari itu, peserta didik perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, kemampuan mengambil keputusan secara bertanggung jawab, serta kesadaran sebagai warga negara yang aktif dan berkarakter.

Pandangan serupa disampaikan Andreas Andrie Djatmiko. Menurutnya, pendidikan kewarganegaraan harus bergerak melampaui pendekatan yang terlalu teoritis dan berorientasi pada hafalan. Peserta didik perlu diajak memahami persoalan kebangsaan melalui pengalaman belajar yang kontekstual sehingga nilai-nilai kewarganegaraan dapat diinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari.
“Peserta didik perlu mengalami proses belajar yang membuat mereka memahami makna menjadi warga negara yang baik. Pembelajaran harus dekat dengan realitas sosial yang mereka hadapi,” katanya.

Andreas menambahkan bahwa penguatan kearifan lokal merupakan salah satu strategi penting untuk menjaga identitas bangsa di tengah derasnya arus globalisasi. Nilai-nilai lokal yang hidup di masyarakat dapat menjadi sarana efektif untuk menanamkan karakter kebangsaan sekaligus memperkuat rasa memiliki terhadap budaya sendiri.

Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, Tim Peneliti Hibah Penelitian BIMA Tahun 2025 mengembangkan CIVIC-GO (Civic Digital Board Game), sebuah media pembelajaran berbasis Android yang menggabungkan unsur permainan edukatif dengan materi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

Aplikasi ini dirancang dengan berbagai fitur interaktif, mulai dari studi kasus kewarganegaraan, simulasi pengambilan keputusan, kuis edukatif, tantangan pembelajaran, hingga muatan budaya lokal yang diintegrasikan ke dalam setiap tahapan permainan.

Melalui pendekatan tersebut, peserta didik tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga dilatih untuk menganalisis persoalan, menyelesaikan konflik, mempertimbangkan berbagai pilihan, dan memahami konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil. Model pembelajaran ini diharapkan mampu membangun kemampuan berpikir kritis sekaligus menanamkan nilai-nilai kewarganegaraan secara lebih efektif.

Selama workshop berlangsung, para guru PPKn yang hadir memberikan berbagai masukan terhadap pengembangan aplikasi CIVIC-GO. Beberapa di antaranya mendorong agar materi yang disajikan semakin dekat dengan realitas kehidupan siswa, memperbanyak contoh kasus lokal Kabupaten Tulungagung, menyederhanakan sistem navigasi aplikasi, serta menyesuaikan model evaluasi dengan kebutuhan pembelajaran di sekolah.

Masukan tersebut dinilai penting karena keberhasilan inovasi pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang digunakan, tetapi juga oleh relevansi materi dan kemudahan implementasinya dalam proses belajar mengajar.

Workshop yang berlangsung melalui sesi pemaparan materi, diskusi kelompok, tanya jawab, hingga penyusunan rekomendasi itu menghasilkan sejumlah catatan strategis untuk penyempurnaan CIVIC-GO sebelum diterapkan secara lebih luas di lingkungan sekolah.

Para peserta juga menilai kolaborasi antara perguruan tinggi, MGMP, guru, dan praktisi pendidikan menjadi faktor penting dalam memastikan hasil penelitian dapat diterapkan secara nyata dan memberikan manfaat langsung bagi dunia pendidikan.
Di tengah percepatan transformasi digital, tantangan pendidikan tidak lagi sekadar menghadirkan teknologi ke ruang kelas.

Tantangan yang lebih mendasar adalah memastikan teknologi mampu memperkuat karakter, membangun nalar kritis, serta menjaga nilai-nilai kebangsaan yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Melalui pengembangan CIVIC-GO, para peneliti berharap teknologi dapat menjadi jembatan untuk menghadirkan pembelajaran PPKn yang lebih menarik, relevan, dan dekat dengan kehidupan generasi muda tanpa meninggalkan jati diri bangsa yang menjadi ruh utama pendidikan kewarganegaraan.

Jurnalis: Pandhu