KesehatanLegislatifTulungagung

Heru Tjahjono Soroti Bahaya Kecanduan Gawai, Ajak Keluarga Terapkan Pola Hidup Sehat

×

Heru Tjahjono Soroti Bahaya Kecanduan Gawai, Ajak Keluarga Terapkan Pola Hidup Sehat

Sebarkan artikel ini

Anggota Komisi IX DPR RI, Dr. Ir. Heru Tjahjono, M.M. saat menyampaikan pesan dan peringatan bahaya kecanduan gawai (hp/,tablet, perangkat digital).

TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com – Anggota Komisi IX DPR RI, Dr. Ir. Heru Tjahjono, M.M., mengingatkan bahaya kecanduan gawai yang kian mengancam tumbuh kembang anak. Dalam kegiatan edukasi di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Sabtu (18/7/2026), ia menegaskan bahwa membangun generasi sehat harus dimulai dari keluarga melalui pola hidup sehat dan pengawasan penggunaan gawai.

Pesan tersebut disampaikan Heru Tjahjono, saat menghadiri kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Keamanan dan Mutu Alat Kesehatan serta Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) di Auditorium Prajnaparamita Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung, Sabtu (18/7/2026).

Kegiatan hasil kolaborasi Komisi IX DPR RI bersama Kementerian Kesehatan RI tersebut tidak hanya membahas keamanan penggunaan alat kesehatan dan PKRT, tetapi juga mengupas berbagai persoalan kesehatan yang semakin dekat dengan kehidupan masyarakat, mulai dari pengelolaan sampah rumah tangga hingga dampak penggunaan gawai terhadap tumbuh kembang anak.

Anggota Komisi IX DPR RI, Dr. Ir. Heru Tjahjono, M.M. bersama ibu-ibu ibu peserta

Dalam paparannya, Heru menegaskan bahwa membangun masyarakat yang sehat tidak bisa hanya mengandalkan program pemerintah. Menurutnya, perubahan harus dimulai dari rumah melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan pengelolaan limbah rumah tangga, termasuk kemasan produk PKRT.

Meski bukan termasuk limbah medis, pembuangan yang tidak tepat tetap berpotensi mencemari lingkungan dan memicu berbagai masalah kesehatan.
“Kebersihan lingkungan merupakan bagian dari upaya pencegahan penyakit. Sampah rumah tangga harus dikelola dengan benar, dimulai dari membuangnya ke tempat sampah yang tertutup,” ujarnya.

Selain persoalan lingkungan, Heru memberi perhatian khusus terhadap meningkatnya ketergantungan anak pada telepon genggam. Ia menilai orang tua perlu lebih bijak dan tegas dalam membatasi penggunaan gawai pada anak usia dini karena dampaknya tidak hanya memengaruhi kesehatan mental, tetapi juga perkembangan sosial, emosional, dan kemampuan berkomunikasi.

Heru bahkan mengisahkan kasus seorang anak yang mengamuk hingga merusak barang-barang di rumah saat telepon genggamnya disita. Menurutnya, kejadian tersebut menjadi bukti bahwa kecanduan gawai telah menjadi ancaman serius bagi tumbuh kembang generasi muda.

Karena itu, ia mengimbau para orang tua tidak terburu-buru memberikan telepon genggam kepada anak. Sebagai alternatif, anak didorong lebih banyak melakukan permainan fisik yang mampu melatih kemampuan motorik, kreativitas, serta interaksi sosial.

Peserta Edukasi di UINSATU

Di sisi lain, Heru juga menyoroti masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Banyak warga baru memeriksakan diri ketika penyakit sudah memasuki tahap yang lebih serius.

Padahal, pemeriksaan rutin seperti pengecekan tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, hingga asam urat merupakan langkah sederhana untuk mendeteksi penyakit sejak dini. Ia pun mengajak masyarakat memanfaatkan layanan kesehatan, termasuk BPJS Kesehatan, sebagai bagian dari upaya pencegahan.

Menurut Heru, ancaman penyakit tidak menular terus meningkat seiring perubahan gaya hidup masyarakat. Karena itu, konsumsi gula berlebihan, kebiasaan merokok, minimnya aktivitas fisik, serta kurangnya waktu istirahat harus mulai dikurangi.

Ia menyarankan masyarakat membatasi konsumsi gula maksimal dua sendok teh per hari, rutin berolahraga atau berjalan kaki, menjaga kebersihan lingkungan, serta menghentikan kebiasaan merokok sebagai investasi kesehatan jangka panjang.
“Kalau masyarakat sudah sadar menjaga kesehatannya sendiri, maka beban penyakit akan menurun dan kualitas hidup masyarakat akan meningkat. Pencegahan selalu lebih murah dan lebih efektif daripada pengobatan,” tegasnya.

Melalui kegiatan edukasi tersebut, Heru berharap masyarakat tidak hanya memahami pentingnya keamanan penggunaan alat kesehatan dan produk rumah tangga, tetapi juga menjadikan pola hidup sehat sebagai budaya yang dimulai dari keluarga.

Menurutnya, keluarga merupakan benteng pertama dalam mencetak generasi yang sehat, produktif, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Jurnalis: Pandhu