PendidikanTulungagung

MPLS Jadi Momentum SMPN 5 Tulungagung Bangun Kepercayaan dan Tarik Peserta Didik Baru

×

MPLS Jadi Momentum SMPN 5 Tulungagung Bangun Kepercayaan dan Tarik Peserta Didik Baru

Sebarkan artikel ini
Nurhamid, S.Pd., Kepala SMPN 5 Tulungagung saat memberikan bimbingan dan motivasi MPLS Tahun Ajaran 2026/2027

TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 5 Tulungagung tahun ajaran 2026/2027 bukan sekadar agenda menyambut siswa baru. Di balik semarak penyambutan, sekolah ini tengah menghadapi realitas yang semakin dirasakan banyak sekolah negeri, yakni menyusutnya jumlah peserta didik di tengah persaingan pendidikan yang kian ketat.

Kepala SMPN 5 Tulungagung, Nurhamid, S.Pd., menegaskan bahwa MPLS menjadi momentum membangun karakter, kedisiplinan, sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi peserta didik baru.
“Anak-anak harus merasa diterima sejak hari pertama. Pendidikan bukan hanya mengejar nilai akademik, tetapi juga membentuk karakter,” ujarnya, Kamis (16/7/2026).

Namun di balik semangat tersebut, sekolah harus menerima kenyataan bahwa target penerimaan enam rombongan belajar (192 siswa) pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 belum tercapai. SMPN 5 hanya memperoleh 128 siswa baru, sehingga tahun ini pembelajaran dibuka dalam empat rombongan belajar.

Meski meningkat dibanding tahun sebelumnya yang hanya menerima 112 siswa baru, kenaikan itu belum mampu menahan penurunan jumlah peserta didik secara keseluruhan. Total siswa yang sebelumnya sekitar 420 orang kini tinggal 308 siswa.

Siswa Baru SMPN 5 aktif mengikuti MPLS TA 2926/2027.

Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa persaingan memperoleh peserta didik tidak lagi hanya terjadi antara sekolah negeri dan swasta, tetapi juga antarsekolah negeri.
Nurhamid mengakui, letak geografis menjadi salah satu tantangan terbesar.

SMPN 5 berada di kawasan yang dikelilingi sejumlah sekolah negeri yang selama ini dikenal sebagai pilihan utama masyarakat.
Di sisi selatan terdapat SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 Gondang, di utara berbatasan dengan SMP Negeri 1 Kauman, sedangkan di sisi timur berdiri SMP Negeri 1, SMP Negeri 2, SMP Negeri 3, hingga SMP Negeri 4 Tulungagung.

Akibatnya, wilayah zonasi yang menjadi sumber calon peserta didik semakin terbatas. Sekolah lebih banyak mengandalkan siswa dari Kecamatan Pakel yang berjarak sekitar lima hingga enam kilometer.

Selain faktor geografis, meningkatnya jumlah sekolah swasta berbasis keagamaan juga turut mengubah peta persaingan. Pilihan masyarakat semakin beragam sehingga sekolah negeri tidak lagi cukup mengandalkan status sebagai sekolah pemerintah.
“Kepercayaan masyarakat sekarang harus dibangun lewat kualitas layanan, prestasi, dan karakter pendidikan yang benar-benar dirasakan,” ungkap Nurhamid.

Menghadapi kondisi tersebut, SMPN 5 memilih fokus melakukan pembenahan.
Salah satunya melalui Program Literasi Religi, yakni pembiasaan membaca Al-Qur’an setiap pagi sebelum kegiatan belajar dimulai sebagai upaya memperkuat karakter religius peserta didik.

Di bidang prestasi, sekolah juga masih mampu menunjukkan daya saing. Salah seorang siswa berhasil meraih Juara I Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) cabang bulu tangkis tingkat Kabupaten Tulungagung dan melaju hingga delapan besar tingkat Provinsi Jawa Timur.

Untuk memperluas jangkauan promosi, sekolah juga menggelar turnamen bola voli antar-SD saat peringatan Dies Natalis. Kegiatan tersebut menjadi sarana memperkenalkan lingkungan sekolah sekaligus menjalin kedekatan dengan calon peserta didik sejak dini.

Peningkatan kualitas guru pun terus dilakukan melalui pelatihan, workshop, dan penguatan komunitas belajar agar mutu pembelajaran tetap terjaga di tengah persaingan yang semakin kompetitif.

Fenomena berkurangnya jumlah siswa di SMPN 5 sejatinya tidak hanya menjadi persoalan internal sekolah. Kondisi ini juga menjadi sinyal bagi pemerintah daerah untuk mengevaluasi pemerataan daya tampung sekolah negeri, efektivitas kebijakan SPMB, hingga pemerataan kualitas pendidikan.

Selama persepsi masyarakat masih menempatkan sekolah tertentu sebagai “favorit” dan lainnya sebagai pilihan kedua, ketimpangan distribusi peserta didik diperkirakan akan terus terjadi.

Di tengah tantangan tersebut, SMPN 5 Tulungagung memilih menjawab dengan peningkatan mutu layanan, penguatan pendidikan karakter, dan konsistensi mencetak prestasi. Sebuah ikhtiar untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat, bukan melalui label sekolah favorit, melainkan melalui kualitas yang terbukti dalam proses pendidikan.

Jurnalis: Pandhu
Editor: Arief