
TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com — Dentuman musik tradisional menggema di halaman Universitas Bhinneka PGRI (UBHi) Tulungagung, Jawa Timur, Rabu (17/6/2026). Langkah-langkah penari Reog Kendang dari mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) bergerak mengikuti irama, disambut tepuk tangan dan sorak penonton yang memenuhi area kampus.

Siang itu suasana kampus berubah menjadi panggung budaya yang dipenuhi warna, gerak, dan ekspresi seni. Melalui gelaran “Sandya Loka Nawasena Budaya”, sekitar 300 mahasiswa PGSD semester empat dan enam menjalani Ujian Akhir Semester (UAS) dengan cara berbeda.
Tidak ada lembar soal maupun deretan pilihan ganda. Sebagai gantinya, mahasiswa menampilkan karya nyata berupa Reog Kendang, monolog, teater hingga skrining film.
Pentas tersebut bukan sekadar agenda seni kampus, melainkan menjadi ruang pembelajaran yang menekankan pentingnya pendidikan karakter dan pelestarian budaya.

Dekan Fakultas Sosial dan Humaniora Universitas Bhinneka PGRI, Dr. Yepi Sedya Purwananti, M.Pd., mengatakan panggung seni tersebut menjadi instrumen akademik untuk menguji kemampuan mahasiswa secara menyeluruh.
“Mahasiswa calon guru tidak cukup hanya pandai teori. Mereka harus berani tampil, mampu memimpin, dan sanggup bekerja sama,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan semacam ini menjadi jawaban atas tantangan pendidikan saat ini yang sering kali hanya menitikberatkan pada pencapaian akademik.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa didorong keluar dari zona nyaman dan belajar memahami arti kerja sama, komunikasi, serta kemampuan menyelesaikan persoalan secara bersama.
Selain menjadi media pembelajaran karakter, pementasan Reog Kendang juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga budaya lokal di tengah perkembangan zaman.
Dr. Yepi menilai generasi muda saat ini semakin dekat dengan budaya digital global, tetapi mulai banyak yang kurang mengenal kesenian daerahnya sendiri.
“Bagaimana guru bisa mengajarkan budaya lokal kepada murid jika gurunya sendiri tidak mengenalnya?” katanya.
Sementara itu, Ketua Program Studi PGSD UBHi, Eka Yuliana Sari, M.Pd., mengatakan agenda tahunan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas akademik sekaligus mempertahankan akreditasi Unggul yang diraih sejak 2022.
Namun menurutnya, predikat unggul tidak cukup hanya menjadi status administratif.
“Unggul harus terlihat dari kualitas lulusan,” tegasnya.

Karena itu, mahasiswa PGSD tidak hanya dibekali kemampuan seni, tetapi juga penguasaan teknologi melalui pengembangan media pembelajaran digital, gamifikasi, hingga konten edukatif berbasis teknologi informasi.
Riuh tepuk tangan yang menutup Sandya Loka Nawasena Budaya sore itu bukan hanya menjadi apresiasi atas sebuah pertunjukan, tetapi juga simbol bahwa pendidikan tidak sekadar melahirkan lulusan dengan nilai tinggi, melainkan juga manusia yang memiliki karakter, kreativitas, dan tetap mengenal akar budayanya.
Jurnalis : Pandhu













