

TULUNGAGUNG — Wakil Bupati Tulungagung H. Ahmad Baharudin, S.M., M.M., menghadiri prosesi Megengan Kubro yang menjadi puncak peringatan Hari Lahir ke-100 Nahdlatul Ulama (NU) di Masjid Agung Al-Munawar, Selasa (10/2/2026) pagi. Kegiatan yang digelar PCNU Tulungagung ini berlangsung khidmat dan sarat makna reflektif atas peran strategis NU dalam menjaga harmoni keislaman, kebangsaan, dan keutuhan sosial.
Peringatan satu abad NU di Tulungagung melibatkan 150 hafidhoh Al-Qur’an dari Muslimat NU se-Kabupaten Tulungagung. Lantunan ayat suci Al-Qur’an yang menggema di seluruh ruang masjid menegaskan bahwa kekuatan NU tidak hanya bertumpu pada struktur organisasi, tetapi juga pada basis spiritual dan tradisi keilmuan yang mengakar kuat di tengah masyarakat.
Sejumlah tokoh agama dan pejabat daerah turut hadir, di antaranya Dr. K.H. Bagus Ahmadi, M.Sy., M.Pd.I., Ketua Tanfidziyah PCNU Tulungagung, KH. Abdul Fatah Sofyan, jajaran pengurus PCNU, serta unsur Forkopimda yang meliputi perwakilan TNI, Polri, dan Kejaksaan. Hadir pula Hj. Miftahurrohmah, Ketua Muslimat NU Tulungagung. Kehadiran lintas unsur ini menegaskan posisi NU sebagai mitra strategis negara dalam menjaga stabilitas sosial dan merawat toleransi.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Ahmad Baharudin menegaskan bahwa perjalanan 100 tahun NU merupakan bukti kontribusi nyata organisasi ini dalam sejarah bangsa, mulai dari perjuangan kemerdekaan hingga penguatan nilai Islam moderat di era demokrasi.
“Megengan Kubro ini harus dimaknai sebagai refleksi bersama. Ketika tantangan sosial, ekonomi, dan budaya semakin kompleks, Al-Qur’an harus kembali ditempatkan sebagai sumber nilai, bukan sekadar simbol. Nilai-nilai Qur’ani inilah yang menjadi fondasi NU dalam merawat persatuan dan keadaban bangsa,” tegasnya.
Ia juga menekankan relevansi Islam Rahmatan lil ‘Alamin yang diperjuangkan NU dalam menjawab persoalan kebangsaan, seperti meningkatnya polarisasi sosial, intoleransi, serta degradasi etika di ruang publik. Pemerintah daerah, lanjutnya, membutuhkan peran aktif NU sebagai kekuatan moral dan penyeimbang kebijakan pembangunan agar tetap berpihak pada nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan prosesi pemotongan tumpeng oleh Wakil Bupati Tulungagung yang diserahkan secara simbolis kepada Ketua PCNU Tulungagung. Prosesi tersebut menjadi penegasan komitmen NU untuk terus berdiri di garda depan menjaga NKRI, mengawal demokrasi yang beretika, serta membumikan ajaran Islam yang inklusif dan menyejukkan.
Memasuki abad kedua, NU dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Namun melalui momentum Megengan Kubro ini, PCNU Tulungagung menegaskan kesiapan untuk terus berkhidmat, memperkuat dakwah berbasis Al-Qur’an, dan memastikan nilai-nilai keislaman tetap menjadi pilar utama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Jurnalis: Pandhu/Rif
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !