

BLITAR (harian-news.com) – Wacana pemerintah mengenai tatanan kehidupan baru (New Normal) mendapat tanggapan beragam dari masyarakat.Tidak terkecuali dari unsur organisasi yang cukup besar di negeri ini yaitu Barisan Ansor Serbaguna (BANSER).
Menurut Anton Husin (42) salah satu pengurus dari Ranting Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar, penerapan New Normal di tengah tingginya kasus Covid19 dapat berdampak buruk pada sistem belajar mengajar di lingkungan pondok pesantren. ” Jika pemerintah tetap memberlakukan New Normal tanpa menghitung jumlah pesantren dan santri yang ada di Blitar Raya, maka sama saja dengan ingin “membunuh” para penerus ulama dan umaro,” ucapnya.
Blitar Raya merupakan tempat dimana ada puluhan pondok dan ribuan santri yang sedang menuntut ilmu agama. Mereka sangat rentan terkena wabah ini dan bisa menjadi episentrum baru bilamana kebijakan new normal diberlakukan.
“Karena apa? Kehidupan di pesantren itu sangatlah sederhana, satu kamar bisa berisi 10 atau 20 santri, bayangkan mereka tidak bisa menjaga jarak. Selain itu tempat wudlu serta kegiatan ibadah selalu berjamaah sehingga tidak memenuhi syarat physical distancing,” ujar laki-laki berkacamata tersebut.
“Pemerintah harus memperhatikan pondok pesantren yang selama ini sering di “anak tirikan” bila ingin menerapkan new normal, pointnya. Hal ini dimaksudkan jangan sampai pondok pesantren menjadi episentrum baru terkait wabah pandemi covid 19 ini,” imbuhnya ketika mengakhiri diskusi dengan awak media.
Sementara itu Moch Agus Slamet, SE, MM pembina LP KPK Blitar yang juga cucu ulama besar dari NU ini sangat membenarkan hal yang disampaikan oleh Anton Husein, SE tokoh muda Banser ini, terkait kebijakan new normal tersebut. [pra]
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !