160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT

Ujian Mahasiswa Berbasis Karya Diterapkan PGSD UBHI PGRI Tulungagung

TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com — Ujian akhir semester tak selalu identik dengan ruang kelas dan lembar soal. Di Mini Hall Universitas Bhinneka PGRI (UBP) Tulungagung, Selasa (13/1/2026), mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) justru diuji melalui Karya seperti pementasan Reog Kendang, pameran karya seni rupa, hingga fashion show batik tulis.

Mengusung tema “Harmoni Budaya Lokal, Semarakkan Semangat Global”, kegiatan ini menegaskan satu hal: pembelajaran di perguruan tinggi keguruan tidak berhenti pada teori, tetapi bergerak, hidup, dan berakar pada pengalaman, budaya, serta kreativitas.

Mini Hall dipenuhi irama yang menghentak, gerak tari yang dinamis, serta deretan karya seni yang merepresentasikan kekayaan lokal Tulungagung. Pementasan ini merupakan ujian resmi mata kuliah Reog Kendang bagi mahasiswa semester tiga, serta seni rupa dan kerajinan tangan bagi mahasiswa semester satu.

Aulia Renata, S.Pd., M.Sn., Dosen Pengampu UBHI PGRI Tulungagung

Dosen pengampu mata kuliah seni, Aulia Renata, M.Sn, menegaskan bahwa seluruh karya yang ditampilkan bukan sekadar ekspresi artistik, melainkan hasil proses akademik yang terstruktur dan terukur.
“Ini bukan pertunjukan biasa. Ini adalah ujian. Mahasiswa melalui tahapan pembelajaran yang lengkap, mulai dari penguasaan teknik, pemahaman budaya lokal, hingga pengembangan kreativitas secara kolaboratif,” tegasnya.

750 x 100 AD PLACEMENT
Fashion Show Busana Batik Tulungagung oleh Eka Fibri Yuliani.

Pada mata kuliah seni rupa, mahasiswa memamerkan beragam karya, mulai dari pointilis, nirmana garis, kolase, lukisan, hingga batik tulis. Proses membatik dilakukan secara manual—dari nyanting, pewarnaan, hingga tahap akhir—sebelum dipresentasikan dalam format fashion show.

Sementara itu, pada mata kuliah Reog Kendang, mahasiswa tidak hanya dituntut mampu menari, tetapi juga memainkan alat musik secara bersamaan. Inilah ciri khas Reog Kendang Tulungagung yang menuntut ketepatan, kekompakan, dan ketahanan fisik.
“Setiap kelompok terdiri dari enam mahasiswa dengan karakter Reog Kendang yang berbeda. Mereka mempelajari gerak dasar, ritme, lalu menyusunnya menjadi satu komposisi pertunjukan,” jelas Aulia.

Penilaian dilakukan secara komprehensif. Aspek yang dinilai meliputi ketepatan gerak, penguasaan ritme, kestabilan, konsistensi, performa panggung, serta kemampuan mengaitkan karya dengan konteks budaya lokal.

Motif batik yang ditampilkan pun sarat makna, seperti Reog Kendang, ikan koi, dan kopi Tulungagung—simbol identitas daerah yang diterjemahkan ke dalam karya visual.

750 x 100 AD PLACEMENT

Menurut Aulia, model pembelajaran berbasis proyek seperti ini menjadi bekal penting bagi calon guru sekolah dasar.
“Kami ingin mahasiswa PGSD tidak hanya pandai mengajar mata pelajaran, tetapi juga mampu menghidupkan pembelajaran melalui seni dan budaya lokal. Ini bukan pelengkap, ini kompetensi utama guru masa depan,” ujarnya menegaskan.

Salah satu mahasiswa peserta fashion show, Eka Fibri Yuliani, mengaku kegiatan ini menjadi pengalaman berharga dalam memahami proses kreatif secara utuh.
“Proses membatik itu panjang dan membutuhkan ketelatenan. Tantangan terbesar kami adalah menjaga konsistensi dan manajemen waktu, karena semua anggota harus terlibat aktif,” tuturnya.

Menurut Eka, pengalaman ini sangat relevan untuk diterapkan di sekolah dasar.
“Sebagai calon guru SD, kami dituntut kreatif. Pameran dan fashion show ini bisa diadaptasi di sekolah, agar siswa aktif berkelompok, berani menyampaikan ide, dan belajar lewat pengalaman langsung,” katanya.

Ia menegaskan, kegiatan ini menjadi bukti nyata perubahan pendekatan pembelajaran.
“Yang paling terasa adalah pembelajaran berbasis proyek dan pengalaman langsung. Kami tidak hanya belajar teori, tetapi benar-benar mempraktikkannya,” pungkasnya.

750 x 100 AD PLACEMENT

Melalui ujian pementasan dan pameran ini, PGSD Universitas Bhinneka PGRI Tulungagung menegaskan komitmennya—bukan sekadar mengajar, tetapi membudayakan; bukan sekadar mendidik, tetapi membentuk calon guru sekolah dasar yang kreatif, berakar pada budaya lokal, dan siap menghadapi tantangan pendidikan masa depan.

Jurnalis: Pandhu/Rif

Berita Terkait
930 x 180 AD PLACEMENT
Ayo ikut berpartisipasi untuk mewujudkan jurnalistik berkualitas!
Promo Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau !