

SDN 2 Sobontoro, Lestarikan Kerajinan Anyaman Bambu
HARIAN-NEWS.COM (TULUNGAGUNG) – Aneka produk kreatif berbahan dasar bambu dengan berbagai motif tradisional yang tumbuh dan berkembang di Kabupaten Tulungagung menjadi ciri kreativitas siswa SDN 2 Sobontoro, Boyolangu.
Sekolah dengan program ekstrakurikulernya berupa anyaman bambu dengan berbagai produknya seperti tempat nasi, tempat tisu, vas bunga dan berbagai ornamen rumah tangga ini menjadi andalan sekolah dan desa saat ada pameran produk kreatif yang menggali kearifan lokal.

Kreativitas kerajinan anyaman yang diajarkan kepada siswa ini mampu memberi inspirasi pada pengembangan industri kecil seperti industri suvenir.
Pentingnya menjaga tradisi dan budaya bangsa sangat terasa di SDN 2 Sobontoro. Ini disampaikan Setiar M.Pd, Jumat, 14 Maret lalu di sekolah yang berada di barat daya kota Tulungagung ini.
“Berbagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, satu di antaranya adalah kegiatan menganyam,” kata Setiar,M.Pd.
Disampaikan Setiar ekstrakurikuler ada yang bersifat akademis dan non akademis. Kegiatan akademis seperti les mata pelajaran, dan non akademik seperti kegiatan olahraga, keagamaan, dan kesenian.
Prestasi

Pada kesenian inilah anyaman diajarkan. “Kegiatan ekstra anyaman sudah banyak meraih juara di tingkat kecamatan dan kabupaten mas, “ ungkap Setiar penuh kebanggaan.
Tidak lupa Setiar, selaku kepala sekolah menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang selama ini selalu mendukung setiap kegiatan sekolah bahkan tidak segan menyumbang ke sekolah secara ikhlas.
Beberapa prestasi di tingkat kecamatan dan kabupaten telah diraih. Kebanyakan untuk kejuaraan mengambil sisi kreasi da keindahan dari sebuah anyaman.
Kurang diminati
Guru yang juga pembina ekstrakurikuler anyaman di SDN 2 Sobontoro, Tusiah, menjelaskan materi yang diajarkan lebih kepada membuat kerajinan anyaman, mulai dari tempat nasi, dan aneka hiasan dari anyaman bambu. “ kebetulan sebelum jadi guru saya adalah pengrajin anyaman.
Awalnya para siswa kurang berminat dengan ekstrakurikuler anyaman bambu, namun lambat laun seiring waktu dan munculnya prestasi yang kini diraih sekolahnya makin banyak siswa yang berminat mengikutinya.

“Bahkan mereka para siswa itu menekuninya sebagai bidang industri rumahan bersama keluarganya,” ungkap Tusiah.
Tusiah berharap anyaman bisa diperhatikan pemerintah daerah,“ Dulu kan banyak mas pengrajin anyaman di Tulungagung namun sekarang mulai berkurang karena tidak ada regenerasi, semoga di sekolah ini menjadi contoh positif bagi sekolah lain”. (tim/red)
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !