NewsTulungagung

Konsolidasi Relawan Bolone Mase Tulungagung Dihadiri Korwil Jawa Timur

×

Konsolidasi Relawan Bolone Mase Tulungagung Dihadiri Korwil Jawa Timur

Sebarkan artikel ini


TULUNGAGUNG,HARIAN-NEWS.com — Di tengah dinamika politik nasional pasca-Pemilu, kelompok relawan Bolone Mase Indonesia wilayah Jawa Timur mulai memperkuat kembali konsolidasi di tingkat akar rumput. Melalui agenda “Temu Kangen Korcam” yang digelar di
Tropical House, Tulungagung, Rabu (6/5/2026), relawan berupaya menjaga soliditas organisasi.

Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi antar relawan, tetapi juga ruang pengarahan politik dan sosial di tengah situasi masyarakat yang dinilai masih menghadapi tekanan ekonomi.

Dalam forum itu, para relawan diminta tetap menjaga loyalitas kepada
pemerintahan serta aktif mengawal program-program yang dijalankan pemerintah pusat.

Koordinator Daerah Tulungagung Bolone Mase Indonesia, Nasirudin Aziz – Arief Gringsing, yang diwakili Arief Gringsing, mengatakan konsolidasi dilakukan dengan menyasar relawan tingkat kecamatan di wilayah Mataraman
Raya.

Kegiatan itu digelar secara bergilir di 14 kabupaten/kota sebagai upaya
menghidupkan kembali komunikasi dan semangat organisasi yang mulai meredup setelah kontestasi politik usai.
“Selama beberapa waktu terakhir memang intensitas pertemuan menurun. Banyak relawan juga menghadapi kondisi ekonomi yang tidak mudah. Karena itu, silaturahmi seperti ini penting untuk menjaga kebersamaan,” ujar Gringsing.

Meneruskan Arahan Kornas dan Korwil Jawa Timur Bolonemase, relawan diminta tetap solid menghadapi berbagai isu politik yang berkembang di media sosial, termasuk narasi mengenai hubungan Presiden dan Wakil Presiden yang disebut mengalami keretakan

Selain menyoroti dinamika politik, forum juga membahas sejumlah program pemerintah yang diklaim diarahkan untuk mendukung agenda pembangunan jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045.

Salah satunya ialah rencana pengembangan sekolah rakyat berbasis
asrama untuk anak-anak dari keluarga prasejahtera.

Program tersebut disebut tidak hanya menitikberatkan pada pendidikan akademik, tetapi juga pembinaan karakter dan spiritualitas peserta didik agar memiliki daya saing di masa depan.

Di sektor ekonomi, perhatian forum tertuju Koperasi Desa Merah Putih bentuk revitalisasi Koperasi Unit Desa (KUD) sebagai instrumen distribusi kebutuhan pokok masyarakat. Melalui skema itu, distribusi bahan pangan seperti beras, minyak goreng, dan telur diharapkan dapat dipangkas lebih pendek sehingga harga ditingkat konsumen menjadi lebih terjangkau.

Forum juga menyinggung program “Pasutri” atau Program Amal Sosial dan Amal Usaha yang disebut menyasar masyarakat kelompok ekonomi terbawah.

Sasaran program tokoh-tokoh masyarakat seperti marbot masjid, guru ngaji, ustaz, dan guru honorer untuk
berperan dalam pembinaan sosial di lingkungan masing-masing.
Sebagai bentuk penghargaan, para pelaksana program disebut akan memperoleh sistem insentif berbasis poin. Skema tersebut diklaim sebagai upaya menghadirkan bantuan sosial yang lebih tepat sasaran sekaligus memberdayakan masyarakat secara langsung.

Dalam arahannya Korwil Bolonemase Jatim menegaskan, peran relawan saat ini bukan sekadar menjaga loyalitas politik, tetapibjuga menjadi penghubung antara masyarakat dan pemerintah.

Relawan diminta aktif menyerap persoalan di lapangan agar program yang dijalankan pemerintah benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kecil.
“Relawan harus tetap hadir di tengah masyarakat. Kalau ada persoalan di bawah, itu harus menjadi masukan agar kebijakan pemerintah tepat sasaran,” kata Majid Widagdo yang malam itu didampingi Rahmad Karim, Zeen, dan Didik Korda Bolonemase Magetan.

Meski demikian,  ia memastikan seluruh arah gerakan politik organisasi tetap berada di bawah instruksi Koordinator Nasional (Kornas).

Ia menekankan pentingnya disiplin
organisasi demi menjaga kesolidan relawan di daerah. Melalui agenda konsolidasi tersebut, Bolone Mase berharap semangat kebersamaan antar
lawan dapat kembali tumbuh. Bagi mereka, politik tidak semata soal perebutan kekuasaan, melainkan juga ruang membangun solidaritas sosial di tengah masyarakat.

Jurnalis : Pandhu/rif