

Wakil Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin meninjau stan UMKM pada pembukaan Car Free Day perdana di Desa Sobontoro, Minggu (28/9/2025).
TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com – Ribuan warga tumpah ruah di Lapangan Desa Sobontoro, Minggu (28/9/2025). Gelaran Car Free Day (CFD) perdana ini seketika menjadi magnet baru: jalan tanpa kendaraan berubah jadi pasar rakyat dengan 90 stan UMKM, menyajikan kuliner hingga produk lokal. Tak kurang dari 2.000 pengunjung hadir, sebagian bahkan datang dari luar desa.

Kepala Desa Sobontoro, Sodiq Afandi, S.Sos, menyebut agenda ini lahir dari semangat memberdayakan ekonomi rakyat. “Inisiatif pertama jelas ingin mengangkat UMKM. CFD ini bentuk komitmen pemerintah desa bahwa pergerakan ekonomi harus dimulai dari usaha rakyat,” ujarnya.
Tak hanya itu, Wakil Bupati Tulungagung, Ahmad Baharudin, S.M., juga hadir memberikan dukungan. Ia menilai CFD Sobontoro merupakan momentum baru dalam menggerakkan ekonomi kerakyatan. “Kami akan memberikan bimbingan kepada pelaku usaha agar CFD bisa berjalan lancar dan eksis, tentu dibantu lewat dinas terkait,” katanya.
Namun, Baharudin juga mengingatkan bahwa CFD tak boleh berhenti sebagai euforia sesaat. “Tidak semua desa bisa serta-merta menggelar CFD. Harus dijaga agar kegiatan ini benar-benar dikelola, bukan asal-asalan. CFD bukan hanya soal perputaran uang, tetapi juga berdampak pada kesehatan, lingkungan, dan keamanan sosial,” tegasnya.
Meski semangat besar tergambar, pemerintah desa mengaku CFD perdana ini digelar tanpa persiapan khusus. “Kita berjalan saja, yang penting mengalir. Kalau satu-dua kali tetap berjalan baik, berarti inisiatif ini berhasil,” kata Sodiq. Sebuah jawaban yang menunjukkan tantangan keberlanjutan kegiatan ini.
Paguyuban 56 selaku penggerak acara berencana menambah variasi hiburan budaya agar CFD tak monoton. Keterlibatan generasi muda, komunitas olahraga, hingga UMKM lokal juga dijanjikan agar CFD menjadi wadah pemberdayaan berkelanjutan.
Antusiasme warga terlihat jelas. Nanang (30) salah seorang pengunjung, berharap CFD bisa rutin setiap minggu. “Luar biasa antusias masyarakat. Sangat bermanfaat bagi pedagang dan UMKM. Semoga konsisten,” katanya.
Kini, CFD Sobontoro dipandang sebagai percontohan desa. Namun, keberlanjutannya akan sangat bergantung pada keseriusan pemerintah daerah dan desa dalam mengawal agar kegiatan ini tak terjebak rutinitas seremonial, melainkan benar-benar memberi dampak nyata bagi ekonomi kerakyatan.
Jurnalis Pandhu
Editor Tanu Metir
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !