AgamaPendidikan

Dr. Bahrun Nasor Ajak Siswa SMAN 1 Boyolangu Teladani Ketangguhan Nabi dan 4 Sifat Rasul

×

Dr. Bahrun Nasor Ajak Siswa SMAN 1 Boyolangu Teladani Ketangguhan Nabi dan 4 Sifat Rasul

Sebarkan artikel ini
Para siswi SMAN 1 Boyolangu mengikuti rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan suasana penuh antusias dan kebersamaan, Selasa (1/9/2026).
Dr. Bahrun Nasor, M.Pd.

TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SMAN 1 Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Selasa (1/9/2026), berlangsung semarak. Tidak sekadar menjadi kegiatan keagamaan, momentum tersebut dikemas dengan berbagai aktivitas untuk menanamkan karakter, keberanian, kreativitas, dan kecintaan siswa terhadap nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW.

Mengusung tema “Keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam Membangun Generasi Muda yang Beradab dan Berilmu Melalui Lomba Hadroh, Tartil, dan Pidato”, rangkaian kegiatan di lingkungan SMAN 1 Boyolangu tersebut diikuti para siswa dengan penuh antusias.

Para siswa SMAN 1 Boyolangu mengikuti rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad
SAW dengan suasana penuh antusias dan kebersamaan, Selasa (1/9/2026).

Puncak pesan moral kegiatan disampaikan Dr. Bahrun Nasor, M.Pd., melalui tausiyah di hadapan para siswa. Ia mengajak generasi muda tidak hanya mengenal Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah, tetapi juga meneladani proses panjang kehidupan beliau yang penuh perjuangan dan ujian.

Bahrun mengingatkan bahwa perjalanan menuju keberhasilan tidak selalu dimulai dari kondisi yang mudah. Nabi Muhammad SAW telah menghadapi kehilangan sejak usia dini. Ayah beliau wafat sebelum kelahirannya, sedangkan ibunya meninggal ketika beliau berusia enam tahun.

Setelah itu, Nabi Muhammad SAW diasuh oleh kakeknya dan kemudian pamannya, Abu Thalib. Berbagai ujian tersebut menjadi bagian dari proses yang membentuk ketangguhan dan kemandirian beliau.

Menurut Bahrun, keteladanan tersebut sangat penting bagi generasi muda. Nabi Muhammad SAW juga telah belajar bekerja sejak usia muda, mulai dari menggembala hingga menjalankan aktivitas perdagangan. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembentukan karakter beliau.

Dalam tausiyahnya, Bahrun kemudian menekankan pentingnya menanamkan empat sifat wajib Rasulullah SAW, yakni Shiddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah.

Shiddiq berarti jujur. Amanah berarti dapat dipercaya. Tabligh berarti menyampaikan kebenaran dengan baik dan bertanggung jawab. Sedangkan Fathonah berarti cerdas, bukan hanya dalam prestasi akademik, tetapi juga dalam memahami persoalan, mengambil keputusan, dan menentukan tindakan yang tepat.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan atau AI. Para siswa dituntut tidak hanya pintar memanfaatkan teknologi, tetapi juga memiliki adab dan tanggung jawab dalam menggunakannya.

Sementara itu, rangkaian Maulid Nabi di SMAN 1 Boyolangu juga diisi lomba hadroh, tartil Al-Qur’an, dan pidato. Ketiga kegiatan tersebut bukan sekadar perlombaan untuk mencari juara.

Hadroh menjadi sarana membangun kekompakan dan kerja sama tim. Tartil Al-Qur’an mendorong kecintaan terhadap Al-Qur’an sekaligus melatih ketekunan. Sedangkan pidato menjadi ruang bagi siswa untuk melatih keberanian berbicara, kemampuan berkomunikasi, dan menyampaikan gagasan di depan publik.

Kepala SMAN 1 Boyolangu, Subagas, S.Pd.,

Kepala SMAN 1 Boyolangu, Subagas, S.Pd., 

turut memberikan pesan kepada para siswa. Ia mengingatkan bahwa setiap pagi seseorang dihadapkan pada pilihan: kembali tidur untuk meneruskan mimpi atau bangun dan mulai berusaha mewujudkan mimpi tersebut.

Pesan itu menegaskan bahwa masa depan tidak cukup dibangun dengan cita-cita. Diperlukan keberanian untuk bangun, bergerak, disiplin, dan bekerja keras.

Di tengah kemajuan artificial intelligence (AI), Subagas juga menekankan bahwa ada hal yang tidak boleh tergantikan teknologi, yakni adab manusia. Bahkan AI dimaknainya secara sederhana sebagai “Adab dan Ilmu”, yang harus berjalan beriringan.

Melalui peringatan Maulid Nabi yang digelar di SMAN 1 Boyolangu, Tulungagung, nilai keagamaan dan pendidikan karakter dipadukan dalam satu rangkaian kegiatan.

Harapannya, siswa tidak hanya tumbuh sebagai generasi yang cerdas dan mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki kejujuran, amanah, keberanian, kedisiplinan, serta adab dalam menggunakan ilmu dan teknologi.

Sebab, meneladani Nabi Muhammad SAW bukan sekadar mengingat sejarah kelahiran beliau, melainkan menjadikan nilai-nilai keteladanan Rasulullah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Jurnalis: Pandhu