PendidikanTulungagung

MOS Al Azhaar Kedungwaru, Saat MPLS Berubah Menjadi Sekolah Kehidupan

×

MOS Al Azhaar Kedungwaru, Saat MPLS Berubah Menjadi Sekolah Kehidupan

Sebarkan artikel ini
MOS, Masa Orientasi Santri SMP Al Azhar, Kedungwaru, Tulungagung di Pantai Ngalur, Tanggungunung, Tulungagung, Jawa Timur.

Tadabur alam, outbound kepemimpinan, dan bakti sosial menjadi bekal santri baru untuk belajar mandiri, berempati, dan berinteraksi langsung dengan masyarakat.

TULUNGAGUNG, HARIAN NEWS – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SD dan SMP Al Azhaar Kedungwaru tahun ini hadir dengan konsep berbeda. Mengusung nama Masa Orientasi Santri (MOS), kegiatan tidak hanya berisi pengenalan lingkungan sekolah, tetapi juga dirancang untuk membangun karakter melalui tadabur alam, outbound kepemimpinan, serta bakti sosial di tengah masyarakat.

MOS berlangsung selama dua hari, 16–17 Juli 2026, dengan mengambil lokasi di Dusun Ngelo, Desa Jengglungharjo, Kecamatan Tanggunggunung, Kabupaten Tulungagung. Para santri bermalam di MI Tahfidz Ngelo, sebuah sekolah yang berada di kawasan selatan Tulungagung yang kini telah terhubung Jalur Lintas Selatan (JLS). Sementara kegiatan outbound dipusatkan di Pantai Ngalur, destinasi alam yang masih alami dan hanya dapat dijangkau menggunakan sepeda motor maupun berjalan kaki.

Kepala SMP Al Azhaar Kedungwaru, Heru Syaifudin, mengatakan konsep MOS sengaja dirancang agar memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bermakna bagi para santri baru.
“Santri kami ajak belajar langsung di tengah masyarakat melalui bakti sosial. Sementara kegiatan outbound menjadi sarana melatih kepemimpinan, kerja sama, dan keberanian dengan cara yang menyenangkan serta interaktif,” ujarnya.

Pengasuh Pesantren Al Azhaar, KH Imam Mawardi Ridlwan, menjelaskan MOS merupakan bagian dari pendidikan karakter yang disesuaikan dengan kebutuhan generasi masa kini.

Menurutnya, proses belajar tidak harus selalu berlangsung di dalam kelas, tetapi juga melalui pengalaman nyata di lapangan.
“Life skill dibangun melalui berbagai permainan edukatif. Santri belajar berkomunikasi, bekerja sama, memimpin, sekaligus menumbuhkan rasa empati dan kepedulian terhadap sesama,” ungkap Abah Imam melalui pesan WhatsApp.

life skill

Ia menambahkan, salah satu tujuan utama MOS adalah melatih kemandirian. Selama dua hari satu malam, para santri belajar hidup jauh dari orang tua, mengatur waktu, membangun kerja sama tim, serta melakukan tadabur alam di Pantai Ngalur sebagai media pembelajaran yang menyatu dengan nilai-nilai keislaman.

Kehadiran para santri juga mendapat sambutan positif dari masyarakat setempat. Ketua RW Ngelo, Sutrisno, mengaku senang dusunnya dipercaya menjadi lokasi kegiatan orientasi santri.
“Alhamdulillah dusun kami mendapat berkah. Anak-anak terlihat mandiri dan mampu berinteraksi dengan masyarakat. Para pemuda desa juga ikut membantu menjaga keamanan selama kegiatan di pantai,” tuturnya.

Melalui konsep tersebut, MOS Al Azhaar Kedungwaru tidak lagi dimaknai sebatas pengenalan lingkungan sekolah.

Kegiatan ini menjadi wahana pembentukan karakter yang mengintegrasikan kepemimpinan, disiplin, kemandirian, kepedulian sosial, dan kecintaan terhadap alam dalam satu rangkaian pembelajaran yang edukatif, kreatif, serta relevan dengan tantangan zaman.

Jurnalis : IMR/ AG