PendidikanWawancara

Wawancara Eksklusif | 40 Hari Memimpin UBhi, Rektor UBhi Dr. Dian Septi Nur Afifah

×

Wawancara Eksklusif | 40 Hari Memimpin UBhi, Rektor UBhi Dr. Dian Septi Nur Afifah

Sebarkan artikel ini

Dr. Dian Septi Nur Afifah, Rektor UBhi PGRI Tulungagung, Jawa Timur.

40 Hari Memimpin UBhi, Rektor UBhi Dr. Dian Septi Nur Afifah :
“Perubahan Harus Terasa, Bukan Sekadar Berganti Pimpinan”

TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com — Empat puluh hari pertama memimpin Universitas Bhinneka PGRI (UBhi) Tulungagung menjadi momentum penting bagi Dr. Dian Septi Nur Afifah, M.Pd. untuk meletakkan fondasi transformasi kampus.

Bagi perempuan yang kini mengemban amanah sebagai Rektor UBhi periode 2026–2030 itu, jabatan bukan sekadar posisi, melainkan tanggung jawab untuk membawa perguruan tinggi berkembang lebih maju.

Dalam wawancara eksklusif bersama Harian News di ruang kerjanya, Selasa (14/7/2026), Dr. Dian mengungkapkan bahwa hari-hari awal kepemimpinannya diisi dengan konsolidasi internal, memetakan berbagai persoalan, sekaligus menyusun strategi agar arah pembangunan kampus berjalan lebih terukur.
“Ini bukan tentang menduduki jabatan, tetapi bagaimana amanah ini bisa membawa UBhi menjadi lebih baik,” tegas Dr. Dian.

Menurutnya, proses transisi kepemimpinan tidak boleh mengganggu roda organisasi.
Karena itu, langkah pertama yang dilakukan adalah mengevaluasi seluruh aspek kelembagaan, menginventarisasi capaian yang perlu dipertahankan, sekaligus menyelesaikan berbagai persoalan yang selama ini menjadi pekerjaan rumah kampus.

Salah satu capaian penting dalam 40 hari pertama adalah terbitnya izin Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG). Program ini dinilai strategis karena memperkuat posisi UBhi sebagai perguruan tinggi yang memiliki basis pendidikan dan mencetak tenaga pendidik profesional.

Namun, Dr. Dian menegaskan bahwa keberhasilan memperoleh izin bukanlah tujuan akhir.
“Yang lebih penting adalah memastikan program ini melahirkan lulusan yang berkualitas dan benar-benar dibutuhkan dunia pendidikan,” ujarnya.

Selain itu, UBhi juga berhasil memperoleh sertifikat akreditasi sementara dari BAN-PT. Langkah tersebut menjadi upaya menjaga keberlangsungan kelembagaan sembari mempersiapkan peningkatan mutu secara menyeluruh.

Bagi Dr. Dian, akreditasi bukan sekadar persyaratan administratif, melainkan cerminan kualitas institusi di mata masyarakat.

Karena itu, peningkatan kualitas akademik, penguatan riset, inovasi, hingga tata kelola kampus yang transparan menjadi prioritas dalam masa kepemimpinannya.

Komitmen UBhi terhadap akses pendidikan juga mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Kampus ini menerima penghargaan dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa atas komitmen dalam penyediaan berbagai program beasiswa, mulai dari KIP-Kuliah, beasiswa internal, hingga kerja sama dengan Baznas.

Meski demikian, menurut Dr. Dian, penghargaan tersebut justru menjadi pengingat bahwa akses pendidikan harus dibarengi dengan peningkatan kualitas layanan akademik.
“Mahasiswa tidak hanya harus bisa masuk kuliah, tetapi juga mampu menyelesaikan pendidikan dengan kompetensi yang kuat sehingga siap bersaing setelah lulus,” katanya.

Di bidang organisasi, tantangan yang tidak kalah besar adalah membangun struktur kepemimpinan baru. Sebanyak 38 pejabat struktural telah dilantik untuk memperkuat tata kelola kampus.

Selama masa transisi, Dr. Dian bahkan masih merangkap tugas sebagai Pelaksana Tugas Wakil Rektor I Bidang Akademik. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari proses konsolidasi agar seluruh unit kerja memiliki visi dan semangat yang sama.

Menjelang penerimaan mahasiswa baru, UBhi menargetkan sekitar 500 mahasiswa baru. Target itu diharapkan mampu mempertahankan bahkan meningkatkan capaian tahun sebelumnya.

Namun, Dr. Dian menyadari persaingan antarperguruan tinggi semakin kompetitif. Tidak hanya jumlah mahasiswa yang menjadi ukuran, tetapi juga kualitas pendidikan, fasilitas, inovasi, serta prospek lulusan.

Ia juga berharap pemerintah pusat dapat menambah kuota KIP-Kuliah sehingga semakin banyak calon mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan tinggi.

Memasuki hari ke-40 kepemimpinannya, sejumlah fondasi transformasi mulai dibangun. Penyelesaian izin PPG, penguatan kelembagaan, pembentukan struktur organisasi baru, hingga penghargaan di tingkat provinsi menjadi catatan positif.

Namun, bagi Dr. Dian, keberhasilan sesungguhnya bukan diukur dari banyaknya program yang diluncurkan, melainkan dari perubahan nyata yang dirasakan sivitas akademika dan masyarakat.
“Kami ingin membangun budaya kerja yang lebih profesional, kolaboratif, dan berorientasi pada mutu. Perubahan harus benar-benar dirasakan, bukan hanya terlihat di atas kertas,” pungkasnya.

Empat puluh hari mungkin baru langkah awal. Namun dari fase inilah arah perjalanan Universitas Bhinneka PGRI Tulungagung menuju kampus yang unggul, kompetitif, dan berintegritas mulai dibentuk.

Jurnalis: Pandu
Editor: Arief EP Gringsing