

Mbah Karji (72) melayani sepenuh hati
TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com — Pagi belum sepenuhnya terang ketika roda sepeda ontel Mbah Karji mulai berderit pelan. Dari Desa Plandaan, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, Jawa Timur, lelaki 72 tahun itu mengayuh perlahan menuju Pasar Ngemplak, tujuannya satu: membuka warung kopi kecil yang telah ia jaga dengan setia selama puluhan tahun.
Di kios kecil pasar yang riuh oleh suara tawar-menawar, aroma kopi panas dari warung Mbah Karji seolah menjadi penenang. Warung sederhana itu bukan sekadar tempat menjual minuman, melainkan ruang kecil penuh cerita—tentang hidup, perjuangan, dan kesetiaan pada jalan yang dipilih.
Sejak 1993, Mbah Karji menghidupi keluarga dari secangkir kopi. Awalnya ia berjualan di sekitar Stasiun Tulungagung. Tahun 2000, ia mendapat kios kecil dari pemerintah daerah di Pasar Ngemplak.
Bersama sang istri yang setia mendampingi, ia menambatkan harapan di warung itu hingga kini.
Setiap hari, kios dibuka pukul 05.00 WIB. Hingga pukul 14.00 WIB, Mbah Karji melayani pelanggan setia—mayoritas penjual bakso yang menunggu daging giling. Sambil menanti, mereka menyeruput kopi panas, berbagi cerita, dan melepas lelah.
“Kalau sudah belanja daging, pasti mampir ke Mbah Ji. Rasanya kurang lengkap kalau belum ngopi,” ujar P. Agus, penjual bakso asal Moyoketen. Mbah Bani dari Kalangbret mengangguk setuju.

Bagi mereka, kopi Mbah Karji bukan sekadar minuman, melainkan bagian dari rutinitas hidup di pasar.
Penghasilan Mbah Karji tak seberapa—sekitar Rp40 ribu hingga Rp70 ribu per hari. Namun, angka itu tak pernah menjadi alasan untuk mengeluh. Baginya, rezeki adalah soal cukup dan berkah. Lebih dari itu, warung kopi adalah tempat menjaga martabat dan kemandirian di usia senja.
Di tengah arus zaman yang kian cepat, Mbah Karji memilih bertahan dengan cara sederhana. Mengayuh sepeda ontel, menyeduh kopi manual, dan menyapa pelanggan dengan senyum yang sama setiap hari.
Di Pasar Ngemplak, waktu seolah berjalan lebih pelan. Dan di warung kopi Mbah Karji, secangkir kehangatan mengajarkan satu hal penting: bahwa hidup tak selalu tentang besar kecilnya hasil, melainkan tentang keteguhan hati untuk terus melangkah.
Jurnalis: Nanang / AG
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !