

Jairi Irawan, S.Hum, M.KP Ketua DPD Golkar Tulungagung menyerahkan hadiah untuk pemenang lomba, Minggu (18/01/2026).
TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com — Halaman Kantor Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Kabupaten Tulungagung tampak berbeda pada Minggu pagi (18/1/2026). Sejak pukul 08.00 WIB, puluhan gantangan berjejer rapi, masing-masing menggantungkan burung perkutut lokal yang bersiap dilombakan.
Kicau khas perkutut Jawa mengalun silih berganti, mengiringi Lomba Burung Perkutut Lokal dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-4 Paguyuban Perkutut Lokal Bolodewo Tulungagung. Kegiatan ini menjadi magnet bagi pehobi perkutut dari berbagai daerah di Jawa Timur, seperti Blitar, Malang, Trenggalek, hingga Kediri.
Para peserta datang bukan semata untuk berkompetisi, tetapi juga mempererat silaturahmi antar komunitas pecinta perkutut yang selama ini tumbuh dan berkembang secara mandiri di daerah masing-masing.

Ketua DPD Partai Golkar Tulungagung, Jairi Irawan, S.Hum., M.KP, mengatakan dukungan partainya terhadap kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membuka ruang publik bagi komunitas masyarakat, khususnya yang bergerak di bidang hobi dan pelestarian budaya lokal.
“Komunitas perkutut ini sudah lama tumbuh dan memiliki ikatan yang kuat. Golkar hadir bukan sebagai pengendali, melainkan sebagai fasilitator. Kami menyediakan tempat agar mereka bisa berkumpul, berinteraksi, dan berkegiatan dengan nyaman,” ujar Jairi di sela kegiatan.
Menurutnya, pemanfaatan Gedung DPD Golkar sebagai ruang kegiatan komunitas merupakan implementasi arahan internal partai agar pengurus di semua tingkatan aktif menyelenggarakan kegiatan sosial secara rutin, tidak semata-mata terkait agenda politik.

Ia menjelaskan, lomba perkutut lokal tersebut merupakan inisiatif pengurus tingkat kecamatan yang kemudian difasilitasi di kantor DPD karena memiliki area yang luas dan representatif.
“Kegiatan ini berawal dari pengurus Kecamatan Kauman. Setelah dikomunikasikan ke DPD, kami menilai tempat di sini memadai, sehingga dipusatkan di Kantor Golkar,” jelasnya.
Langkah tersebut, lanjut Jairi, sekaligus menjadi upaya mengikis jarak psikologis antara partai politik dan masyarakat.
“Kami ingin partai ini terasa dekat. Tidak berjarak, tidak eksklusif, dan bisa diakses masyarakat untuk kegiatan apa pun yang positif,” tegasnya.
Selain sebagai ajang kompetisi, lomba ini juga dimaksudkan untuk mengangkat kembali eksistensi perkutut lokal yang dinilai memiliki nilai budaya tinggi dan lekat dengan identitas masyarakat Jawa. Jairi menilai, maraknya burung impor membuat perkutut lokal kerap tersisih, padahal memiliki karakter suara dan filosofi tersendiri.
“Perkutut lokal ini memiliki kekhasan yang sangat Indonesia, terutama Jawa. Kalau tidak diberi ruang, lama-lama bisa terpinggirkan. Kegiatan seperti ini penting untuk menjaga keberlanjutan—baik sebagai hobi, budaya, maupun potensi ekonomi,” ujarnya.
Panitia lomba menyediakan sekitar 60 gantangan di setiap sesi, dengan beberapa kelas yang dipertandingkan, mulai dari kelas reguler hingga VVIP. Setiap sesi berlangsung selama 20 menit dengan sistem penilaian berbasis poin.
Total burung yang dilombakan mencapai ratusan ekor dan terbagi dalam beberapa sesi sepanjang hari. Antusiasme peserta terlihat sejak pagi, dengan area lomba yang terus dipadati peserta dan penonton.

Hadiah yang disiapkan panitia meliputi piala, piagam, uang pembinaan, serta doorprize utama berupa dua ekor kambing yang menambah daya tarik kegiatan.
Jairi mengungkapkan, sebagian peserta sempat terkejut ketika mengetahui lomba digelar di kantor partai politik. Namun, setelah memahami konsep yang diusung, para peserta justru menyambut positif.
“Ada yang bertanya, kenapa harus di Golkar? Dari situ kami ingin menyampaikan bahwa partai bisa hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, bukan hanya saat pemilu,” katanya.
Ia menegaskan, Golkar tidak ingin dikenal semata sebagai mesin politik lima tahunan. Partai, menurutnya, harus hadir sepanjang waktu dan mendampingi masyarakat dalam berbagai kegiatan sosial dan budaya.
“Pemilu memang lima tahun sekali. Tetapi lima tahun itu harus diisi dengan kegiatan bersama warga. Entah mereka nanti memilih Golkar atau tidak, kami tetap ingin berkontribusi,” ujarnya.
Setiap kegiatan yang difasilitasi Golkar, lanjut Jairi, selalu disertai dialog dan serapan aspirasi masyarakat sebagai dasar penyusunan agenda berikutnya.
“Apa yang dibutuhkan masyarakat, itu yang kami fasilitasi. Mulai kegiatan kesehatan hingga lomba burung ini, semuanya lahir dari aspirasi warga,” pungkasnya.
Lomba perkutut lokal tersebut menjadi contoh kolaborasi antara partai politik dan komunitas masyarakat dalam ruang yang cair dan inklusif. Gedung partai tak sekadar menjadi pusat administrasi politik, melainkan juga ruang publik yang terbuka.
Melalui pendekatan ini, Golkar Tulungagung berharap dapat membangun hubungan jangka panjang dengan masyarakat sekaligus memperbaiki citra partai di mata publik.
Lomba perkutut yang berlangsung sepanjang hari itu pun menjadi ruang temu antara komunitas, budaya, dan politik dalam suasana yang lebih membumi.
Jurnalis: Pandhu/AG
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !