
Konferensi Pers Kapolres Tulungagung AKBP Muhammad Taat Resdianto S.H., S.I.K., M.T.C.P.
TULUNGAGUNG, HARIAN-NEWS.com – Kasus penemuan jasad bayi laki-laki di pekarangan rumah warga Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, mengungkap cerita memilukan. Polisi menyebut sang ibu, MA (23), diduga mengakhiri hidup bayinya sendiri karena tekanan mental dan kesepian.
Kapolres Tulungagung AKBP Muhammad Taat Resdianto S.H., S.I.K., M.T.C.P., membeberkan, bayi itu lahir dalam keadaan hidup pada Selasa (5/8/2025) sekitar pukul 11.00 WIB. Bayi sempat bertahan sehari sebelum meninggal pada Rabu malam.
“Berdasarkan keterangan awal, ibu bayi mengaku menenggelamkan anaknya di bak air pada Selasa malam sekitar pukul 22.00 WIB. Jenazah dimakamkan sendiri oleh MA pada Kamis dini hari pukul 04.00 WIB,” ujar Kapolres, Kamis (14/8/2025).
Tekanan Berat dan Keterbatasan Ekonomi
Dari keterangan lanjutan, MA awalnya memandikan bayinya lalu memberi susu UHT yang dibeli lewat jasa antar instan. Ketika uang habis, ia mengganti susu dengan minuman isotonik.
“Terakhir, karena bayinya menangis terus, MA mencoba menenangkan dengan memasukkan jarinya ke mulut bayi. Kemungkinan karena panik, tidak tahu cara merawat bayi, tidak ada dukungan, dan tertekan, ia nekat melakukan perbuatan itu,” kata AKBP Taat.
Sebatang Kara dan Malu
MA diketahui sudah berpisah dengan mantan pacar atau tunangannya sejak April lalu. Kehamilan ia jalani sendirian, tanpa pendamping, diselimuti rasa malu dan takut.
“Yang bersangkutan ini sebatang kara. Kami bekerja sama dengan Dinas Sosial untuk memberikan pendampingan medis dan psikologis. Saat ini MA masih dirawat di RSUD karena tekanan mental berat,” imbuh Kapolres.
Proses Hukum Jalan Terus
Meski belum ditetapkan tersangka karena masih dirawat, penyidik memastikan proses hukum berjalan. Polisi juga akan memanggil mantan pacar MA untuk dimintai keterangan.
“Kalau nanti ada bukti dan unsur pidana, ayah biologis juga bisa diproses. Perkembangan kasus akan kami sampaikan,” tegas AKBP Taat.
Kasus ini mengguncang warga Tulungagung dan menjadi pengingat akan pentingnya dukungan sosial bagi perempuan yang hamil di luar pernikahan, terutama mereka yang rentan secara ekonomi dan mental.
Jurnalis: Pandhu