Penulis: Pandhu Rangga Sasmita
Kesehatan sering kali ibarat pualam megah yang baru kita sadari keindahannya saat ia retak atau hancur berkeping-keping. Di sudut-sudut Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, pualam itu sebenarnya sedang dijaga bersama melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Mulai dari deteksi dini kanker, pemeriksaan penyakit tidak menular, hingga konsultasi medis berkala, semuanya disajikan tanpa memungut biaya sepeser pun. Namun, sebuah pemandangan kontras dan memprihatinkan kerap tersaji di balik gerbang puskesmas maupun pos pelayanan: pintu-pintu tempat pemeriksaan itu justru sepi dari antrean warga.
Rasa takut mendadak menjadi bayang-bayang yang melumpuhkan keberanian, rasa malu menjadi rantai yang mengunci langkah untuk tahu, dan doktrin lama “baru berobat saat tubuh tumbang” menjadi jebakan senyap yang membahayakan jiwa.
Realitas ironis ini bukanlah sekadar cerita rekaan. Di tengah gencarnya pemerintah dan pemangku kepentingan menggelontorkan fasilitas kesehatan tanpa pungutan biaya, satu tembok tebal masih kokoh berdiri menghalangi: tingkat kesadaran warga untuk melangkah masuk dan memeriksakan diri secara berkala.
Tembok besar ini diungkapkan secara lugas oleh Jairi Irawan, S.Hum., M.KP., Ketua DPD Partai Golkar Tulungagung yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur.
“Persoalan kesehatan masyarakat tidak cukup hanya diselesaikan dengan menyediakan fasilitas layanan. Tantangan terbesar justru berada pada kesadaran warga untuk mau memeriksakan dirinya secara berkala,” tegas Jairi saat ditemui dalam sebuah kesempatan wawancara mendalam.
Baginya, ketersediaan dokter, kelengkapan obat-obatan, hingga kemegahan gedung kesehatan hanyalah sebagian kecil dari solusi teknis.
Masalah yang jauh lebih rumit justru bersembunyi di dalam labirin pola pikir serta kebiasaan masyarakat yang telah berlangsung turun-temurun.
Benang Kusut di Balik Angka Partisipasi yang Rendah
Data resmi Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung menggambarkan realitas yang menyentil nurani kita bersama. Capaian partisipasi warga dalam mengikuti program Cek Kesehatan Gratis (CKG) baru menyentuh kisaran 13 persen hingga di bawah 20 persen dari total populasi.
Artinya, ada sekitar 80 hingga 87 persen warga Tulungagung yang belum memanfaatkan hak dasar pelayanan medis mereka. Jika disandingkan dengan tingkat partisipasi di tingkat Provinsi Jawa Timur yang berada di angka 65 persen, capaian Tulungagung tertinggal teramat jauh, padahal target ideal nasional yang ditetapkan Kementerian Kesehatan RI berada pada angka 80 hingga 90 persen.
Mengapa angka partisipasi ini begitu memprihatinkan? Apakah warga sama sekali tidak peduli pada raga mereka sendiri?
Angka yang rendah itu ternyata tidak sepenuhnya mencerminkan ketidakpedulian masyarakat semata. Terdapat benang kusut kendala teknis dan operasional yang sering kali luput dari pandangan publik.
Jairi menjelaskan bahwa sebagian kegiatan pemeriksaan sebenarnya telah berlangsung aktif di lapangan, namun pencatatan datanya belum sepenuhnya masuk dan terintegrasi ke dalam sistem pendataan pusat.
Hambatan sinyal internet di desa-desa terpencil, berpadu dengan tingginya beban kerja tenaga kesehatan di puskesmas yang harus mengampu berbagai tugas bersamaan, membuat proses input data sering kali tertunda.
Selain itu, skema pelaksanaan program memang dirancang bertahap: diprioritaskan bagi anak sekolah, balita di posyandu, dan lansia sebelum menjangkau masyarakat umum secara menyeluruh.
Kendati demikian, akar persoalan psikologis dan sosiologis di tingkat akar rumput tetap menjadi tantangan yang paling nyata.
Berdasarkan dialog langsung dan observasi di lapangan, terdapat tiga faktor utama yang membelenggu warga untuk hadir:
1. Faktor Psikologis dan Kebiasaan Lama
Banyak warga diliputi ketakutan membentang jika nantinya ditemukan penyakit ganas di dalam tubuh mereka. Ada pula rasa malu yang canggung, khususnya bagi kaum perempuan ketika harus menjalani pemeriksaan organ reproduksi seperti metode IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) maupun SADANIS (Pemeriksaan Payudara Klinis).
Ditambah lagi, filosofi hidup “selagi masih bisa berjalan, artinya masih sehat” membuat masyarakat memandang pemeriksaan medis rutin sebagai tindakan yang membuang waktu.
“Banyak masyarakat masih memiliki rasa takut, malu, atau menganggap pemeriksaan kesehatan belum menjadi kebutuhan utama. Padahal, pencegahan jauh lebih penting daripada menunggu penyakit ditemukan ketika kondisinya sudah berat,” tutur Jairi prihatin.
2. Benturan Jam Kerja dan Keterbatasan Informasi
Bagi warga yang menggantungkan hidup sebagai buruh tani, pedagang pasar tradisional, atau pekerja harian lepas, jam pelayanan kesehatan yang beroperasi pada jam kerja merupakan dilema besar.
Melepas satu hari kerja demi antre di puskesmas berarti merelakan pendapatan harian yang amat berharga bagi dapur keluarga.
Di sisi lain, sosialisasi yang belum merata hingga ke pelosok dusun menyebabkan banyak warga awam tidak mengetahui keberadaan program gratis tersebut.
3. Kesenjangan Digital dan Administrasi
Transisi sistem pendaftaran ke platform digital dan aplikasi seluler justru menciptakan barikade baru bagi warga usia lanjut dan masyarakat yang belum terbiasa dengan teknologi.
Keraguan terkait status aktif kepesertaan jaminan kesehatan nasional juga kerap membuat warga urung melangkahkan kaki.
Deteksi Dini Perisai Utama Melindungi Masa Depan
Sangat disayangkan jika berbagai benteng penghalang tersebut membuat warga terus melewatkan manfaat vital dari Cek Kesehatan Gratis.
Program ini bukanlah agenda seremonial belaka, melainkan sebuah bentuk investasi jangka panjang untuk menjaga marwah dan kualitas hidup manusia.
Manfaat paling krusial dari Cek Kesehatan Gratis adalah kemampuan melakukan deteksi dini.
Ancaman penyakit mematikan seperti kanker leher rahim, kanker payudara, diabetes melitus, hipertensi, dan kolesterol tinggi dikenal sebagai silent killer (pembunuh diam-diam) yang berkembang tanpa memberikan sinyal rasa sakit pada stadium awal.
Saat gejala fisik mulai terasa menyiksa, penyakit tersebut biasanya sudah menjalar ke fase lanjut. Di titik itulah penanganannya menjadi jauh lebih sulit, biaya medis membengkak tanpa kendali, dan peluang kesembuhan menyusut drastis.
Lewat pemeriksaan berkala, potensi penyakit dapat diadang sejak fase awal sebelum sempat merusak organ vital.
Selain aspek medis, program ini adalah penyelamat finansial keluarga. Mendapatkan pemeriksaan tanpa biaya tentu meringankan beban ekonomi harian.
Namun yang lebih mendasar, deteksi dini mencegah keluarga jatuh ke dalam jurang kemiskinan akibat pengobatan penyakit kronis yang mahal di kemudian hari.
Mencegah penyakit sejak dini jauh lebih murah, mudah, dan manusiawi dibandingkan perawatan intensif di kamar rawat inap rumah sakit.
Pemeriksaan ini juga membuka ruang edukasi langsung antara warga dan tenaga medis. Melalui pengukuran tekanan darah, gula darah, dan indeks massa tubuh, masyarakat mendapatkan potret kondisi fisik secara objektif sekaligus memperoleh literasi kesehatan yang benar, sehingga tidak mudah goyah oleh mitos kesehatan yang menyesatkan.
Pemeriksaan Tepat Sasaran Berdasarkan Siklus Hidup
Hal memikat lain dari program Cek Kesehatan Gratis yang diterapkan di Tulungagung (sesuai panduan resmi Kementerian Kesehatan RI) adalah pendekatan berbasis siklus hidup.
Pendekatan ini menjamin tiap kelompok usia mendapatkan pemeriksaan yang presisi sesuai potensi risiko kesehatannya:
– Bayi Baru Lahir hingga Balita: Berfokus pada pengawalan tumbuh kembang dan penanganan kelainan bawaan sejak dini melalui Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK), pendeteksian Penyakit Jantung Bawaan (PJB) kritis, serta pemantauan stunting. Pada usia dua tahun, dilanjutkan dengan skrining anemia, thalasemia, dan kadar gula darah.
– Usia Sekolah dan Remaja: Mengarah pada evaluasi kecukupan gizi (termasuk ancaman obesitas anak), skrining kesehatan mental, edukasi bahaya rokok, serta skrining anemia bagi remaja putri guna menyiapkan calon ibu yang sehat di masa depan.
– Usia Dewasa (18–59 Tahun): Menargetkan pencegahan Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti stroke, jantung, dan diabetes. Bagi kaum perempuan, tersedia skrining SADANIS dan tes IVA/HPV DNA untuk membendung kanker serviks dan payudara. Bagi calon pengantin, disediakan skrining anemia, HIV, dan sifilis untuk membentengi ketahanan keluarga baru.
– Lanjut Usia (60 Tahun ke Atas): Berfokus pada pengelolaan penyakit degeneratif, penilaian fungsi kognitif guna mencegah demensia (pikun), pemeriksaan ketajaman mata dan pendengaran, serta evaluasi risiko jantung agar para lansia tetap berdaya dan bermartabat di usia senja.
Mengubah Perilaku Kunci Emas Peradaban Sehat
Menutup dialog, Jairi Irawan menegaskan bahwa angka partisipasi yang rendah bukanlah takdir yang harus diterima begitu saja.
Kunci utama perubahan terletak pada keberanian kolektif untuk merobohkan paradigma lama: berani beralih dari budaya kuratif (mengobati setelah sakit) menuju budaya preventif (mencegah sebelum sakit).
“Pemeriksaan kesehatan bukan dilakukan karena seseorang merasa sakit, melainkan sebagai bentuk perlindungan diri dan investasi masa depan. Dengan mengetahui kondisi tubuh lebih awal, langkah penanganan bisa diambil dengan cepat dan tepat,” tegasnya penuh optimisme.
Guna memastikan keberlanjutan program, DPD Partai Golkar Tulungagung bersama Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dan Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung terus bersinergi memperluas jangkauan.
Ke depannya, pemeriksaan kesehatan gratis akan diintegrasikan langsung ke dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat, seperti pelatihan UMKM di tingkat desa dan kecamatan.
Dengan demikian, warga dapat memeriksakan kesehatan di sela-sela aktivitas ekonomi mereka tanpa perlu mengorbankan waktu mencari nafkah.
“Politik tidak hanya berbicara tentang perebutan kekuasaan, melainkan bagaimana kehadiran lembaga politik mampu memberikan manfaat nyata dan membahagiakan rakyat,” pungkas Jairi.
Kabupaten Tulungagung kini berada di persimpangan sejarah.
Ketika pemerintah dan pemangku kepentingan telah membentangkan karpet merah berupa layanan kesehatan gratis, kini keputusan ada di tangan kita masing-masing.
Mari kita buang jauh rasa takut yang tak beralasan, singkirkan rasa malu yang merugi, dan ubah pola pikir kita.
Mari jadikan cek kesehatan rutin sebagai gaya hidup baru yang membanggakan demi mewujudkan masyarakat Tulungagung dan Indonesia yang sehat, mandiri, serta tangguh menghadapi masa depan.
#MasyarakatSehatIndonesiaKuat
#LombaKesehatanKomdigi2026
#HUT81RI











