

Foto: Eka Fibri Yuliani, perwakilan IPPNU Trenggalek, usai Grand Final Pemilihan Duta Pelajar Putri NU Jawa Timur 2026.
SURABAYA, HARIAN-NEWS.com — Di tengah derasnya arus digitalisasi yang kerap mengaburkan identitas generasi muda, capaian Eka Fibri Yuliani menembus Top 5 dan meraih peringkat keempat pada Grand Final Pemilihan Duta Pelajar Putri NU Jawa Timur 2026 menjadi penanda penting bahwa nilai, karakter, dan keberanian tetap memiliki ruang strategis.
Eka Fibri Yuliani, mahasiswi Universitas Bhinneka PGRI Tulungagung asal Kabupaten Trenggalek, tidak hanya membawa nama daerahnya ke panggung provinsi, tetapi juga menghadirkan narasi tentang pelajar NU yang adaptif, reflektif, dan berdaya di tengah perubahan zaman.
Dalam wawancara dengan Harian News, Selasa (27/1/2026), Eka Fibri menegaskan bahwa capaian tersebut bukan semata hasil kompetisi, melainkan bagian dari proses panjang pembentukan diri.
“Masuk Top 5 dan berada di posisi keempat adalah pengalaman yang sangat berkesan. Ini bukan hanya tentang peringkat, tetapi tentang keberanian melangkah, proses belajar, dan kebersamaan,” ujarnya.
Menurutnya, capaian tersebut justru menjadi amanah moral untuk terus berkontribusi bagi pelajar, khususnya di daerah, agar memiliki kepercayaan diri dan arah yang jelas dalam menghadapi tantangan zaman.
Eka Fibri menilai ajang Pemilihan Duta Pelajar Putri NU sebagai ruang pendidikan yang menyeluruh. Seluruh tahapan seleksi hingga grand final, kata dia, menjadi proses pembentukan mental, sikap, serta kedewasaan berpikir.
“Yang paling penting adalah pembentukan mental, attitude, manner, dan pola pikir. Saya belajar berpikir kritis terhadap isu pelajar, perempuan, dan ke-NU-an, sekaligus menyampaikan gagasan secara terstruktur dan relevan,” tuturnya.

Ia juga menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi pelajar NU saat ini, mulai dari krisis identitas, rendahnya literasi digital, hingga rapuhnya ketahanan mental akibat tekanan media sosial.
“Informasi datang begitu cepat tanpa filter, sementara daya kritis pelajar belum sepenuhnya terbentuk,” katanya.
Dalam konteks tersebut, Eka Fibri menekankan pentingnya peran Duta Pelajar Putri NU sebagai teladan, bukan sekadar figur seremonial.
Ia menilai nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah seperti tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), dan tasamuh (toleran) relevan sebagai fondasi berpikir pelajar di ruang digital.
“Nilai-nilai itu membuat pelajar tidak mudah terprovokasi dan mampu bersikap bijak dalam menyikapi perbedaan,” ujarnya.
Pasca ajang pemilihan, Eka Fibri merancang program ISI (Inspiratif, School Attention, Inovatif) bertema Pelajar Berdaya, Pelajar Sehat Mental.
Program tersebut akan diwujudkan melalui kelas literasi digital, konseling sebaya, serta penguatan jati diri pelajar NU, dengan sasaran pelajar SMP dan SMA di Kabupaten Trenggalek.
“Duta harus menjadi jembatan antara nilai dan praktik. Di daerah, figur inspiratif sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan keberanian bermimpi sekaligus menjaga karakter,” katanya.
Program ini direncanakan berjalan melalui kolaborasi dengan IPPNU dan satuan pendidikan agar dampaknya lebih luas dan berkelanjutan.
Sebagai mahasiswa, Eka Fibri memandang peran akademik dan sosial sebagai dua hal yang saling melengkapi. Akademik menjadi fondasi intelektual, sementara aktivitas sosial menjadi ruang aktualisasi nilai.
“Keduanya saling menguatkan. Saya belajar manajemen waktu, disiplin, dan menjadikan aktivitas sosial sebagai ruang belajar nyata,” ujarnya.
Dari seluruh rangkaian kompetisi, ia mengaku mendapatkan pelajaran penting tentang kepemimpinan.
“Pemimpin bukan yang paling sempurna, tetapi yang mau belajar, mendengar, dan melayani. Kepemimpinan perempuan adalah tentang empati, keteguhan prinsip, dan keberanian menyuarakan kebaikan,” tuturnya.
Di akhir wawancara, Eka Fibri berpesan kepada pelajar perempuan NU agar tidak ragu mengambil peran di ruang publik.
“Jangan takut bermimpi besar. Perempuan NU punya potensi luar biasa. Jadilah cerdas, santun, dan berani tampil. Nilai keislaman bukan penghalang, justru itulah kekuatan kita,” pungkasnya.
Ke depan, Eka Fibri berkomitmen aktif di IPPNU Trenggalek untuk mengimplementasikan program literasi dan kesehatan mental, serta membuka ruang diskusi pelajar agar peran Duta Pelajar Putri NU benar-benar hadir sebagai kerja nyata di tengah masyarakat.
Jurnalis: Pandhu/Rif
Jangan Tampilkan Lagi
Ya, Saya Mau !